Monthly Archives: January 2012

Pada Suatu Masa, Cantoi, Kali Code

Sumber: Jurnal Nasional | Minggu, 22 Jan 2012

Mustafa Ismail
PADA SUATU MASA

pada suatu masa, kita pernah bercakap-cakap
tentang hujan yang turun dalam tidurmu

tentang tarian jari-jari Mella di galeri itu
yang mengantarmu ke sebuah masa

tentang cuaca Barcelona di musim dingin
yang membawamu ke sebuah nama

lalu hujan menjadi batu
lidah kita sedingin salju

aku membakar sejumlah mimpi
kau membakar aku

kita pun lahir kembali menjadi gerimis
dalam tidur masing-masing.

pada suatu masa, kita pun bercerita
tentang gerimis yang menjadi abu

Depok, Agutus 2011

PENARI HUJAN

aku penari, katamu,
biarkan aku menari sesukaku

Pram Menggugat Didiskusikan di TIM

Judul Buku :
Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia
Penulis : Koh Young Hun
List Price : Rp 75.000
Penerbit : Intisari (Gramedia Pustaka Utama)
Cetakan I : Desember 2011
Tebal : 436
Ukuran : 210x140x0 mm
===============================================================

Sastra kerap bermusuhan dengan politik ketika penguasa bertindak represif. Pelarangan buku-buku Pramoedya Ananta Toer berakibat fatal. Nyaris langka kajian tentang karya-karya Pram yang dilakukan peneliti Indonesia. Kajian tentang Pram justru banyak dilakukan parapeneliti asing di berbagai universitas di luar negeri.

Buku Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia (Gramedia, Desember 2011) karya Prof Koh Young Hun adalah salah satu contoh. “Inilah kajian paling lengkap atas karya-karya Pramoedya AnantaToer,” ujar Maman S. Mahayana yang bertindak sebagai editor buku itu.

Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama akan menyelenggarakan peluncuran dan diskusi buku itu, Kamis, 19 Januari 2011, pukul 15.00-17.00 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bertindak sebagai pembicara adalah penulisnya sendiri, Prof Koh Young Hun, pengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Tampil sebagai pembahas, Agus R Sarjono, redaktur majalah sastra Horison. Acara akan dimoderatori kritikus sastra, Maman S Mahayana.

Dalam kondisi karut-marut kehidupan bangsa ini, pemikiran Pram, seperti yang diteroka Koh Young Hun dalam kajiannya, kiranya relevan dan kontekstual untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara besar. | RILIS PANITIA

Seni, Lokalitas, dan Tanah Rantau

ADA satu kalimat klasik untuk menggambarkan bagaimana seni bisa beradaptasi begitu mudah dengan lingkungan apa pun: seni mengusung bahasa universal. Seberapa pun gelap seni itu, atau bahasa verbal yang dibawa oleh karya seni itu tidak dipahami oleh publik tempat seni itu dipertunjukkan, karya itu tetap bisa dinikmati. Bagi khalayak, sajak-sajak Afrizal Malna begitu gelap, namun tetap ada sesuatu yang bisa dinikmati.

Afrizal, juga seniman-seniman lain yang menyuguhkan karya seni dengan warna dan langgamnya sendiri, tidak akan kehilangan audiennya, meskipun karya itu disuguhkan di hadapan publik sangat asing sekalipun. Dalam karya itu tetap ditemukan sesuatu yang berbeda. Ungkapan semisal Lagee Cina nonton seurati(seperti orang Cina menonton seudati), sebenarnya lebih pada olok-olok di luar konteks kesenian, ketimbang sebuah gambaran betapa seni terasing dari penikmat di luar komunitas pelaku seni itu sendiri.

Terbukti, seudati begitu sering hadir di forum-forum nasional dan international, dan komunitas luar Aceh itu begitu menikmati suguhan tersebut. Sama halnya dengan karya-karya seni lainnya. Sebut saja koreografer Asnawi Abdullah, yang karya-karya tarinya sangat kental dengan idiom-idiom lokalitas Aceh, juga bisa dinikmati oleh publik di Jakarta. Itu pula yang membuat lagu Rafli, yang jelas-jelas dalam bahasa Aceh, bisa enak didengar oleh kalangan non Aceh.

Sayangnya, sedikit kreator seni yang menyadari betapa lokalitas menjadi pembeda bagi karya. Pembeda itu tidak berhenti pada penilaian sesuatu yang lain, tapi juga sesuatu yang khas , dan sesuatu yang baru . Para pengamat seni, termasuk media massa, selalu bertanya ketika menghadapi sebuah karya seni: apa sih yang baru , apa sih yang khas , atau apa sih yang berbeda . Jika ketiga pertanyaan itu jawabannya negatif , bisa dipastikan karya itu tidak akan mendapatkan apresiasi yang cukup.

Seni, Identitas dan Wawasan Estetik

Oleh Mustafa Ismail

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 16 Oktober 2010

Penyair Sapardi Djoko Damono dalam sebuah sesi kuliah di pascasarjana Intitut Kesenian Jakarta melontarkan sebuah pertanyaan menarik: jika seniman berkarya mengadopsi/bertolak atau menyerap wawasan estetik dari karya asing apakah bisa disebut karya seni Indonesia? Menurut Sapardi, seniman, secara politik, identik dengan kewarganegaraan tertentu. Seseorang disebut sebagai seniman Indonesia karena ia warga negara Indonesia.

Persoalan identitas memang terus menjadi pembicaraan. Apalagi kini, menjadi tidak jelas lagi mana karya seni Indonesia dan mana yang bukan. Bahkan, menurut Sapardi, sejumlah karya seni yang diakui sebagai karya seni Indonesia pun sebetulnya datang dari luar. Nah, kini, seniman-seniman Indonesia banyak menyerap gagasan dan wawasan seni dari pergaulan dunia, lewat berbagai media. Bahkan, sejumlah seniman Indonesia mendalami seni di luar negeri.

Bertolak dari sana, dalam wilayah seni kontemporer, menjadi tidak ada lagi sekat apakah itu karya seni Indonesia atau bukan. Kita bisa melihat, misalnya, karya tari Eko Supriyanto yang disuguhkan dalam Indonesian Dance Festival di Taman Ismail Marzuki Jakarta pertengahan Juni lalu. Meski ia membawa tradisi Jawa yang kental ke atas pentas, tapi tetap terasa ada suasana “luar” dalam karyanya. Dan seperti kita tahu, Eko memang pernah belajar tari di Amerika Serikat.

Bahkan, karya-karya tradisi pun “diobrak-abrik” untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang disebut kreasi baru. Terkadang, kreasi baru itu hanya penggabungan beberapa tari, bukan memberi unsur-unsur baru pada tari asalnya. Misalnya, tari Saman yang berkembang di Jakarta.

Peluncuran Buku Fanny Poyk

Hari ini, Sabtu, 14 Januari 2022, ada beberapa acara seni yang menarik. Salah satunya peluncuran buku kumpulan cerpen “Suamiku Dirampok Orang” karya Fanny Jonathans Poyk.  Acara itu diadakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73 Jakarta Pusat. Diskusi akan dipandu oleh penyair Remmy Novaris DM.

Fanny Jonathans Poyk, penulis cerpen itu, dalam status Facebooknya, kemarin, menulis begini: “Undangan terbuka: mengingatkan kembali untuk para sahabat, kiranya esok jam 3 sore bisa hadir di PDS HB Jassin TIM Cikini di peluncuran Buku Antologi cerpenku “Suamiku Dirampok Orang” dengan pembicara Kurnia Effendi dan bincang-bincang sastra bersama Gerson Poyk, Leon Agusta, Hanna Rambe, Saut Poltak Tambunan, Free Hearthy, Ikranagara dll, silahkan datang, kami menunggu kehadiran Anda semua…(Tentunya ditemani teh dan kopi serta penganan kecil)… ”

Fanny J. Poyk adalah seorang penulis cerpen produktif. Karya perempuan kelahiran Bima 1960 dimuat di berbagai media cetak nasional seperti Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini dan Sarinah. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi, 2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara (Esensi, 2006).

Meski lahir di Bima, Fanny menikmati masa kecil hingga ramajanya di Bali. Ia lalu kuliah di  Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Seusai menamatkan kuliah, ia bekerja sebagai editor di tabloid anak-anak Fantasi, lalu ke majalah Potensi. Selain menulis, ia juga aktif dalam organisasi Wanita Penulis Indonesia (WPI). [MIS]

 

 

Menulis Bisa Kaya? Siapa Bilang Tidak?

Oleh: Dianing Widya

Mengapa Menulis?

PERNAHKAH Anda memiliki keinginan untuk dikenal orang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil bagus, juga jalan-jalan ke berbagai kota bahkan negara? Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan bekerja keras. Salah satunya dengan menulis. Mengapa? Menulis juga salah satu kegiatan yang menghasilkan uang, dan bisa dijadikan profesi. Artinya menulis bukan lagi sekedar hobi.

Banyak penulis yang kemudian menjadi terkenal dan kemudian kaya raya. Kalau di Indonesia, kita mengenal Habiburrahman El Sirazy, Andrea Hirata, Ayu Utami, dan lain-lain. Di luar negeri, misalnya ada Dan Brown dan JK Rowlling. Sebelum menulis, nama-nama itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan orang terkenal.

JK Rowling, misalnya, sebelumnya hidup sangat sederhana. Untuk menghemat listrik di rumahnya, ia memilih menulis di kafe. Tapi, tahukah Anda berapa kekayaan JK Rowling kini? Sungguh fantastis: US $ 1 miliar! Ia menjadi salah satu orang terkaya di Inggris, bahkan di dunia. Asyik kan? Anda mau? Pasti mau dong. Saya juga mau. Kalau mau, mengapa tidak langsung memulai menulis?

Kerja Keras

Tapi, sukses tidak didapatkan secara simsalabim abrakadabra. Semua perlu proses. Semua perlu ketekunan, semangat untuk belajar, semangat untuk maju, tak kenal menyerah, dan terus kerja keras. Sejumlah penulis terkenal dan penulis laris kini tidak mendapatkan kesuksesan itu secara spontan.

Dan Brown telah menulis sejumlah buku, tapi baru buku keempat yakni “The Davinci Code” yang laris. Setelah itu, buku-buku dia sebelumnya juga ikut laris.

Saman Semalam Suntuk di Taman Mini

Ikatan Mahasiswa Gayo Lues (IMGL) Jabodetabek dan Aceh Culture Centre (ACC) Jakarta akan mengadakan Pergelaran Tari Saman semalam suntuk bertema di anjungan Aceh TMII Jakarta, Sabtu 14 Januari 2012, pukul 19.30. Kegiatan ini dibingkai dalam tema “Saman Warisan Dunia”. Sebelumnya, kegiatan ini akan digelar pada November lalu, namun tertunda. “Pergelaran tari Saman semalam suntuk ini untuk memetakan posisi saman dalam era global serta mengenalkan Saman sebagai warisan dunia,” kata Ketua Panitia Burhanuddin.

Menurut Burhan, saman yang ramai dimainkan di Jakarta, merupakan gabungan dari beberapa tari lain dari Aceh. “Salah satunya adalah tari Likok Pulo dari Aceh Besar,” ujarnya. Padahal Tari Saman berasal dari Suku Gayo diantaranya Gayo Lues, Lokup Aceh Timur, Aceh Tenggara, dan sebagian kecil dari masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah yang sudah disahkan Sebagai Warisan Dunia Tak Benda oleh Pihak UNSECO di Nusa Dua Bali 24 November 2011 silam.

Kekeliruan mengenali tari saman, menurut dia, akan membuat Saman kehilangan identitasnya. Bahkan, itu juga akan membuat saman kehilangan filosofinya. Ia menambahkan, Pergelaran Tari Saman semalam suntuk ini direncanakan akan dibuka oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar dan untuk Opening Arts: Didong Nalo, (Puisi Seribu Saman oleh Ir Fikar W Eda/Seniman Aceh), Tari Saman Kepies Gayo Jakarta, Tari Ratouh Duk, Tari Bines serta Tari Emun Beriring.

Ada pun pergelaran Tari Saman semalam suntuk yang dimulai pukul 19.30 Wib yang di hadiri oleh kelompok Saman IMGL Jombang dan kelompok Saman IPPEMATANG Malang. Sementara yang tampil menjadi tuan rumah yaitu Klop Saman IMGL Jakarta dan Klop Saman Kepies Gayo Jakarta. Acara ini didukung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah, serta Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. [*]

Tarian Cermin: 99 Sajak Mustafa Ismail

Oleh Adek Alwi

————Sumber: Suara Karya, Sabtu, 1 Nopember 2008

PALING tidak ada tiga sebab mengapa tahun 1970-an dan 1980-an tak banyak benar sastrawan asal (dan yang tinggal di) Aceh kita kenal. Pertama, mereka mungkin tak serajin LK Ara, Isma Sawitri, Zakaria M Passe (untuk contoh yang tak banyak itu) mempublikasikan karyanya di majalah dan koran Jakarta. Kedua, teknologi informasi termasuk dunia penerbitan belum semaju periode-periode sesudah itu.

Ketiga, jumlah sastrawan yang muncul di tahun 1990-an dan 2000-an bisa jadi memang lebih banyak, juga kerajinan mereka mengirimkan karya ke media Jakarta, dan mereka diuntungkan pula oleh kemajuan teknologi informasi termasuk dunia penerbitan.

Nah, apapun sebabnya namun sejak periode 1990-an gairah sastra di Nanggroe Aceh Darussalam memang tinggi frekuensinya. Hal itu ditandai oleh penerbitan buku kaum sastrawan di daerah itu, berita-berita tentang aktivitas mereka, serta karya-karya mereka yang dipublikasikan di media Ibu Kota.

Mustafa Ismail satu dari generasi sastrawan Aceh pada masa yang bergairah itu. Suatu hari, bertemu kami di TIM dan dia hadiahi saya antologi puisinya terbaru, “Tarian Cermin”. Saya sudah kenal nama penyair, cerpenis, serta wartawan kelahiran 1971 ini. Puisi dan cerpennya tersebar di banyak media (pun cerpen Azhari yang juga asal Aceh, muda usia pula).

“Tarian Cermin” diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh dengan BRR NAD tahun 2007, menghimpun 99 sajak Mustafa Ismail bertahun cipta 1993 hingga 2003. Rinciannya: 1 sajak tahun 1993; 4 tahun 1995; 21 tahun 1996; 13 tahun 1997; 4 tahun 1998; 32 tahun 2000; 1 tahun 2001; 9 tahun 2002; dan 14 sajak di tahun 2003.

Antologi Puisi Kartini

Informasi ini saya dapatkan dari halaman facebook Kosakatakita. Tidak ada salahnya saya bagikan di sini. Ceritanya, KosaKataKia akan membuat buku puisi dari penyair perempuan. Direncanakan buku itu akan terbit pada 21 April 2012. Nah, penerbit itu mengundang para penyair perempuan dari seluruh Indonesia untuk mengirimkan karyanya. Persyaratan umumnaya: perempuan, segala usia, domisili di mana saja,  sudah membukukan puisinya (baik sendiri maupun antologi), dan masih produktif  dan konsisten menulis dalam kurun 3-5 tahun terakhir.

Para penyair dipersilakan mengirim sebanyak sepuluh puisi dengan panjang setiap puisi maksimal 40 baris. Soal tema, tentu saja mencerminkan/mengandung nilai-nilai dan semangat perempuan Indonesia masa kini. “Puisi harus karya terbaru, terbaik dan belum pernah dimuat dalam media apa pun,” tulis Adri Darmadji Woko, Gunoto Saparie, dan Kurniawan Junaedhie — yang tampaknya menjadi inisiator penerbitan antologi ini —  dalam pengumuman yang diposting pada 3 Januari 2012 itu.

Kirim ke mana? “Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: 1kosakatakita@gmail.com, subyek: RA KARTINI, paling lambat sudah harus diterima pada 1 Maret 2012.” Tolong catat sekali lagi tanggal batas akhir pengiriman ya: 1 Maret 2012!. Mereka juga mewanti-wanti, agar para penyair perempuan ketika mengirimkan puisi tidak lupa menyertakan biodata dan foto terbaru.

Puisi-puisi yang masuk akan diseleksi oleh tim editor atau kurator yang ditunjuk. Para penyair yang puisinya terpilih masuk buku tersebut akan mendapatkan bukti terbit sebanyak 2 (dua) eksemplar buku. Selain itu, ada satu hal lagi yang dipermaklumkan: tidak ada pungutan apa pun bagi keikutsertaan dalam antologi ini, termasuk bagi mereka yang puisinya terpilih. “Sebaliknya penyair yang karyanya dimuat tidak memperoleh honorarium/royalti.”

Lelaki yang Ditelan Gerimis

Cerpen: Mustafa Ismail

KAMI bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Sejenak aku sempat terperangah dengan kehadirannya. Aku hampir tidak mengenalnya jika ia tidak menyebut namanya sendiri, sambil bertanya kepadaku dalam logat Aceh yang kental, “Kau masih ingat kan?”

Jelas saja aku masih ingat Suman, teman baikku ketika di pesantren dulu. Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah. Beberapa kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi.

Perihnya luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televisi.

Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah. Siapa pun yang melanggar peraturan itu, tanggung sendiri akibatnya.

Banyak santri memang patuh. Tetapi ada sebagian yang bandel, mencuri-curi untuk bisa keluar dari kompleks dayah demi menonton televisi. Di antara sebagian itu, ya kami, aku dan Suman. Nyaris setiap malam kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui pintu samping tempat wudu.