Monthly Archives: March 2012

Kesetiaan dan Kerinduan yang Romantis Doel CP Allisah

Catatan : Mustafa Ismail

=====

Ini tulisan lama yang disertakan sebagai pengantar buku antologi puisi dua bahasa milik penyair Aceh Doel CP Allisah “Nyanyian Miris” (ASA & DKB, 2007).

=====

kesetiaan adalah,
senyum bocah-bocah
tanpa kebanggaan
kesetiaan adalah,
manusia-manusia lapang dada
solider dan toleransi
kesetiaan adalah,
kamu yang di jiwaku
dan kita saling memberi pengertian
makna cinta sebening embun pagi

Sajak berjudul “Kesetiaan” yang ditujukan kepada Baden dan Cut Tiwayla itu sajak paling tua dalam kumpulan ini. Sajak ini bertahun penciptaan 1976-1979. Saya menduga, sajak ini ditulis pertama kali pada 1976, lalu mungkin mengalami perbaikan akhir pada 1979.

Pada saat sajak ini ditulis pertama kali, usia Doel CP Allisah, penyair ini, baru berusia 15 tahun. Doel lahir di Banda Aceh pada 3 Mei 1961. Artinya, Doel memulai perjalanan kreatifnya, setidaknya bisa ditandai dengan sajak paling tua dalam kumpulan ini, pada umur 15 tahun.

Boleh jadi, sajak yang ditulis pada usia 15 itu belum sempurna. Maka, ia pun merevisi ulang sajak itu. Hasilnya seperti yang kita baca di awal tulisan ini.

Peluncuran Buku Mengenang HB Jassin

Mengenang kritikus sastra HB Jassin, akan diluncurkan enam buku tentang HB Jassin di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 72, Jakarta Pusat, Jumat, 30 Maret 2012, pukul 14.30-16.30.

Buku-buku itu adalah H.B. Jassin: (1) Pelopor Kritik Sastra Modern Indonesia, (2) Tujuh Pendapat Tentang H.B. Jassin, (3) H.B. Jassin dalam Dua Puluh Tiga Puisi Indonesia, (4) Wartawan Bertanya H.B. Jassin Menjawab, (5) Memoar H.B. Jassin Juru Peta Sastra Indonesia, (6) Mengenal Biografi H.B. Jassin.

Selain peluncuran buku, dijadwalkan ada pembacaan puisi-puisi HB Jassin, juga akan tampil sejumlah tokoh yang akan mengisahkan kenangannya tentang tokoh yang dijuluki sebagai paus sastra Indonesia itu. Acara ini, menurut Ritawati Jasin dari PDS HB Jassin dalam undangan yang dikirim kepada penulis, diadakan untuk mengenang 12 tahun meninggalnya H.B. Jassin (11 Maret 2000 – 11 Maret 2012)

Jassin yang bernama lengkap Hans Bague Jassin ini lahir di Gorontalo, 13 Juli 1917. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di HIS Balikpapan. Namun sekolah menengahnya diselesaikan di HBS di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Itu dikarenakan ia ikut ayahnya yang pindah ke kota itu.

Dan sejak belajar di sekolah menengah, ia sudah mulai menulis karya sastra yang dimuat di sejumlah majalah. Pada 1940, atas tawaran Sutan Takdir Alisjahbana, Jassin hijrah ke Jakarta dari Gorontalo dan bekerja di Balai Pustaka. Sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai tenaga sukarela di kantor Asisten Residen Gorontalo.

Selanjutnya, Jassin bekerja sebagai redaktur dan menulis kritik sastra di sejumlah majalah budaya terkemuka seperti Pandji Poestaka, Mimbar Indonesia, Zenith, Sastra, Bahasa dan Budaya dan Horison. Selama hidupnya, ia begitu tekun melakukan pengkajian, analisis, dan pendokumentasian sastra.

Para Panyair dalam “Narasi Tembuni” KSI Award

Salah satu bagian acara dalam Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Cisarua, Puncak, Jawa Barat, 23-25 Maret 2012 adalah penyerahan penghargaan KSI Award. Pemenang penghargaan itu adalah Iman Budhi Santosa dengan puisi berjudul Ziarah Tembuni.

Sementara empat karya yang masuk “puisi unggulan” adalah Ritus Pisau (Anwar Putra Bayu, Palembang), Dari Utsmani ke Tsunami (Dimas Arika Miharja, Jambi), Aku, Kembarbatu, dan Telago Rajo (Jumardi Putra, Jambi), dan “Di Tepi Benteng Somba Opu” (Hasta Indrayana, Yogyakarta).

Puisi-puisi itu dibukukan dalam antologi “Narasi Tembuni” bersama 95 puisi pilihan lainnya. Menurut panitia, puisi-puisi pemenang, unggulan dan pilihan yang masuk antologi itu disaring oleh tim juri dari 2.335 judul karya 447 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Tim jurinya adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Endo Senggono, Bambang Widiatmoko, Diah Hadaning, dan Mujizah.

Pemenangnya, menurut dewan juri dalam catatannya di buku antologi,berasal dari berbagai usia dan generasi yang berbeda, datang dari berbagai komunitas di berbagai penjuru nusantara. “Dengan demikian antologi puisi Narasi Tembuni ini cukup representatif sebagai cermin atau gambaran perkembanan perpuisian Indonesia terkini,” tulis dewan juri.

Memang, melihat biodata mereka di bagian akhir buku ini, akan terlihat betapa beragamnya peserta lomba puisi KSI Award ini. Di sana kita akan menemukan nama-nama seperti Damiri Mahmud (penyair Sumatea Utara kelahiran 1945), Iman Budhi Santoso (penyair Yogyakarta kelahiran 1948), Mustofa W. Hasyim (Yogyakarta, 1954), juga Dinullah Rayes (penyair Sumbawa kelahiran 1939).

Medy Loekito Jadi Ketua KSI

KSI (Komunitas Sastra Indonesia) resmi memiliki ketua baru. Hasil sidang formatur kongres KSI yang digelar di Wisma Argamulya, Puncak, Bogor, Jawa Barat, memilih penyair Medy Loekito sebagai ketua umum KSI periode 2012-2015. Medy menggantikan Ahmadun Yosi Herfanda yang memimpin KSI sejak 2008.

Formatur yang terdiri dari 11 orang itu (enam wakil dari cabang-cabang KSI dan lima dari unsur dewan pendiri) juga memilih Bambang Widiatmoko sebagai sekretaris dan Iwan Gunadi sebagai bendahara. “Formatur mengamanatkan agar pengurus lengkap KSI disusun malam ini,” ujar Idris Pasaribu, sastrawan asal Sumatera Utara, juru bicara tim formatur, ketika mengumumkan kepemimpinan organisasi itu, Sabtu malam (24/3/2012).

Tim formatur beranggotakan, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Idris Pasaribu, Habiburahman El-Shirazy, Medy Loekito, Iwan Gunadi, Wig SM, Arsyad Indradi, Mahdi Duri dan Ayid Suyitno PS. Dan rupanya tidak mudah untuk menentukan para pemimpin KSI itu. “Pada nolak jadi ketua,” kata seorang anggota tim formatur. Itu pula yang membuat tim formatur bersidang hingga hampir satu jam.

Ini kongres kedua yang diadakan KSI. Kongres pertama diadakan di Kudus pada 2008 yang kemudian memilih Ahmadun. Seperti halnya kongres pertama, kongres kali ini juga diwarnai dengan sejumlah kegiatan.

Baca puisi menampilkan para penyair seperti Sosiawan Leak, Fatin Hamama, Rukmi Wisnu Wardhani, Mustafa Ismail, Sihar Ramses Simatupang, Habiburahman El-Shirazy, Anwar Putra Bayu, Chavcay Syaefullah, Jumari HS, dan lain-lain. Orasi sastra disampaikan oleh Abdul Hadi WM.

Kejutan-Kejutan Kurnia Effendi

Catatan awal: Mustafa Ismail

====
Ini adalah bahan diskusi buku kumpulan cerpen “Kincir Api” karya Kurnia Effendi di Galeri Gudeg Kota Seni, Tangerang, Minggu 10 Desember 2006. Saya tidak sengaja menemukannya ketika mencari-cari file lain.
=====

Sejenak, saya terdiam. Saya mencoba mencari-cari: apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Kurnia Effendi dalam cerpennya Air Mengalir dari Ujung Jemarinya? Sekedar potret kemaraukah: kekeringan merayapi tanah dan orang-orang menyerbu titik-titik air? Ini, semua kita tahu, pastilah pemandangan umum.
Lalu, apa yang tidak umum dalam cerpen itu? Tiba-tiba air mengalir dari ujung jari seorang perempuan hamil, yang sebelumnya, terlambat datang untuk mengantri air di rumah orang kaya yang kebetulan punya air. Ini mengejutkan banyak orang yang mengantri, termasuk penjaga rumah itu yang tampak begitu congkak. Juga mengejutkan pembaca tentunya.
Keajaiban? Entahlah. Yang pasti, kejadian itu memang betul-betul ajaib. Dan keajaiban itu datang kepada orang-orang teraniaya. Cerita ini seperti menegaskan kembali keyakinan klasik: orang sabar disayang Tuhan, kebenaran akan selalu berkilau meskipun dalam lumpur, kebahagiaan akan datang kepada orang-orang teraniaya, dan seterusnya.
Cerita ini menyuguhkan sebuah happy ending yang berbeda. Jika dalam cerita kebanyakan happy ending hadir dengan penggambaran, misalnya, kemenangan si tokoh, kembalinya si anak hilang, bertemunya kembali sepasang kekasih, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, dan sebangsanya.
Tapi di sini, Kurnia menyuguhkan happy ending secara simbolik. Namun, tentu, kita tahu, yang dimaksud pengarang tetaplah happy ending sebagaimana lazimnya, atau seperti saya singgung di atas: kemenangan akan datang kepada orang-orang teraniaya.

Kongres KSI dan Seminar Sastra

Tadi pagi, saya kembali melihat email dari Ahmadun Yosi Herfanda. Isinya adalah rilis, jadwal acara, dan petunjuk teknis bagi peserta kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang diadakan di Wisma Argamulya Depdikbud, Cisarua, Puncak, Bogor, pada 23-25 Maret 2012.

Acara itu, selain memilih pengurus baru KSI (periode 2012-2015), menurut Ahmadun, juga mengadakan seminar sastra Indonesia mutakhir. Mendikbud Prof. Dr. Muhammad Nuh direncanakan akan membuka kongres sekaligus menyampaikan orasi sastra.

Sejulah sastrawan dan akademisi sastra terkemuka, menurut Ketua Panitia Kongres, H. Bambang Widiatmoko, akan jadi pembicara seminar ini. Ada Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Dr. Nursamad Kamba, Dr. Sudaryono (Dimas Arika Miharja), Dr. Wahyu Wibowo, Eka Budianta, dan Dr. Mujizah. Sementara moderator adalah Iwan Gunadi dan Micky Hidayat.

Kongres juga akan ditandai dengan pentas sastra dan pergelaran “api unggun sastra”. Kegiatan ini menyajikan pertunjukan baca puisi oleh sejumlah penyair ternama. Juga ada musikalisasi puisi yang akan menampilkan Sanggar Sesaji pimpinan Rudi Karno dari Banjarmasin, Hasta Indrayana dari Yogyakarta, dan Sarang Matahari Penggiat Sastra pimpinan H. Shobir Pur dari Tangerang Selatan.

Para sastrawan nasional yang dijadwalkan akan tampil membacakan puisi antara lain Habiburrahman el Shirazy, Nana Rishki Susanti, Mustafa Ismail, Iman Budi Santosa, Mustowa W. Hasyim, Evi Idawati, Rukmi Wisnu Wardani, Anwar Putra Bayu, Fakhrunnas MA Jabbar, Chavcay Syaefullah, Micky Hidayat, Jumari HS, Toto St. Radik, Husnul Khuluqi, dan Sihar Ramses Simatupang.

Jangan Digantung di Monas

Mustafa Ismail, penggiat kebudayaan

Sumber: Koran Tempo, Jumat 16 Maret 2012

Dulu–entah sekarang–ada guyonan di kalangan remaja, kalau putus cinta, jangan minum racun, mending gantung diri di pohon cabai atau pohon tomat. Lebih praktis, murah, dan aman. Soalnya, racun itu mahal. Kadang hal itu diucapkan sambil meniru iklan sebuah produk antinyamuk yang menyatakan produk kompetitornya mahal.

Sekilas, ini memang tanpa makna. Tapi pernyataan seperti itu tentu tidak akan muncul jika tidak ada fakta bahwa ada remaja yang bunuh diri karena putus cinta. Selain itu, guyonan seperti itu memperlihatkan, dalam bawah sadar, tertanam sebuah kesadaran untuk merespons realitas: segala persoalan, betapapun beratnya, tidak perlu diakhiri dengan tindakan fatalis.

Dalam teori semiotika, kata, warna, sikap, pernyataan, benda, cara berpakaian, tingkah laku, dan sebagainya merupakan simbol-simbol yang menyuguhkan makna. Tokoh semiotika Ferdinand de Saussure menggambarkannya relasi itu sebagai X=Y. X adalah penanda, sementara Y adalah petanda atau makna yang diusung oleh penanda itu.

Dengan kata lain, tidak ada “sesuatu” pun yang bebas dari taksir. Dalam konsep Lacanian disebutkan, penanda selalu menandakan penanda lain. Menurut Jacques Lacan, tidak ada kata yang bebas dari kemetaforaan (Madam Sarup, 2011:10). Dengan kata lain, kata bukan cuma barisan huruf yang merujuk pada sesuatu. Tapi lebih dari itu, ia memantulkan makna lebih luas dari apa yang dirujuknya.

Ketika Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, menyatakan bahwa ia “siap digantung di Monas

Antologi Puisi Negeri di Atas Langit: Kupu-kupu untuk SBY

Oleh: Mustafa Ismail

Kupu-kupu yang lucu
kemana engkau terbang
hilir mudik mencari
bunga yang kembang
untuk mengisap madu
dan sarinya

Itu adalah puisi yang ditulis oleh Soeryadarma Isman, penyair cilik dari Padang Panjang, Sumatera Barat, dalam buku “Negeri di Atas Langit”. Buku yang menghimpun karya tiga penyair cilik, selain Soeryadarma, ada Shania Azzira dan Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq itu diluncurkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sabtu 31 Desember lalu.

Kegiatan itu dibarengi dengan seminar “Cara Dahsyat Menembus Media dan Menerbit Buku” dengan pembicara Mustafa Ismail (saya) dan Muhammad Subhan, penulis novel “Kabut Rinai Singgalang”. Kegiatan itu diikuti sekitar seratus lima puluh peserta yang sebagian besar anak-anak muda dan mahasiswa dari berbagai kota di Sumatera Barat, seperti Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, dan lain-lain. Sebagian lainnya para guru.

Nah, peluncuran “Negeri di Atas Langit” menyedot perhatian sendiri. Maklum, mereka adalah anak-anak yang masih duduk di kelas dasar. Soeryadarma, misalnya, adalah pelajar kelas IV SD Negeri 01 Guguk Malintang, Padang Panjang Timur. Bocah kelahiran Beureunuen, Pidie, Aceh, 17 Maret 2002 ini menyertakan 50 puisi dalam buku itu. Ia adalah putra penyair asal Aceh, Sulaiman Juned, yang jadi dosen teater di ISI Padangpanjang. Ia kerap memenangkan lomba baca puisi, termasuk sering ikut membaca puisi dalam berbagai kegiatan.

Lalu Shania Azzira adalah pelajar kelas V SD Negeri 08 Ganting Gunung, Padang Panjang. Ia lahir di Padang Panjang pada 7 September 1999. Ia anak pertama dari dua bersaudara.