Monthly Archives: December 2013

Bertanyalah Sebelum Dilarang

Minggu pagi, 29 Desember 2013, saya bersama Edgina, putriku, naik becak dari mulut Jalan Yos Sudardo, seberang alun-alun Batang, Jawa Tengah. Kami habis jalan-jalan pagi dan duduk-duduk di alun-alun. Kami sempat membeli batagor di bagian selatan alun-alun yang luar biasa murahnya: satu porsi Rp 3 ribu.

Sehabis minum di Starling (aku mendengar pertama kali istilah ini dari kawan Harun Mahbub) — maksudnya Starbuck Keliling — kami meninggalkan alun-alun. Kami berjalan kaki ke arah utara untuk pulang ke rumah mertua. Anakku sempat protes ketika kuajak berjalan kaki. Sebab sejak awal ia ingin naik becak. “Sudah lama nggak naik becak,” katanya.

Tapi aku memberi pengertian bahwa lebih baik naik becak di seberang alun-alun, di mulut jalan Yos Sudarso. Tiba di sana, seorang Pak Becak (beliau sudah bapak-bapak banget, bukan abang-abang lagi) sudah melihat. Ia tampak bersiap-siap menyambut kami. Kami pun menghampirinya, tidak ke becak lain yang memang banyak mangkal di sana.

Singkat cerita, tanpa bertanya apa pun, kami naik becak itu — bukan memanjat! (Emang pohon kelapa dipanjat?!). Sepanjang jalan, aku asyik merekam perjalanan dengan kamera ponsel — khas “turis” pokoknya. Sementara putriku juga asyik sendiri menikmati naik becak. (Tolong adegan ini jangan ditiru. Ajaklah anak Anda mengobrol tentang apa saja yang ditemui di perjalanan dan menceritakan kisahnya, bukan masing-masing asyik sendiri).

Tak sampai 10 menit sudah sampai di depan rumah. Memang dekat kok. “Kurang dari satu kilometer,” kata orang Batang asli, Dianing Widya. Tiba di depan rumah — sempat kelewatan dikit sehingga harus balik — aku turun dan membayar. Aku sempat teriak-teriak (kayak di hutan haha..) ke iparku berapa ongkos becak dari alun-alun, tapi mereka seperti tidak mendengar. Ketika kutanya ke Pak Becak, ia menjawab, “Terserah.” Bingung kan?

Aku lalu mengeluarkan uang Rp 10 ribu. Dan aku sempat menunggu sejenak siapa tahu ada kembalian. Tapi rupanya tidak. Pak Becak kemudian beringsut, melanjutkan perjalanan. “Mau dikasih berapa pun tidak akan dikembalikan,” kata iparku. Di siini harus kasih uang pas. “Biasanya dari alun-alun ke rumah ongkosnya Rp 5 ribu.”

Jadi begitulah saudara-saudara, pepatah tempo doeloe, zaman kuda gigit besi, tetap berlaku hingga kini di zaman digital: malu bertanya akan menyesal kemudian. Aku tidak bertanya dulu sebelum berangkat berapa ongkos becak (dari mana ke mana). Juga tidak bertanya, atau bernegosiasi dengan tukang becak, tentang ongkosnya.

Bayangkan kalau aku ngasih Rp 50 ribu. “Belum tentu juga ada kembalian,” entah kata siapa kemarin – soalnya banyak yang kemudian ngasih “wejangan”. Jadi bertanyalah sebelum dilarang, apalagi ketika kita berada di kampung orang. Kecuali berada di kampung kucing — tidak usah tanya-tanya!

Batang, 30 Desember 2013.

Seni, Identitas, dan Wawasan Estetik

MUSTAFA ISMAIL | @musismail

Penyair Sapardi Djoko Damono dalam sebuah sesi kuliah di pascasarjana Intitut Kesenian Jakarta melontarkan sebuah pertanyaan menarik: jika seniman berkarya mengadopsi/bertolak atau menyerap wawasan estetik dari karya asing apakah bisa disebut karya seni Indonesia? Menurut Sapardi, seniman, secara politik, identik dengan kewarganegaraan tertentu. Seseorang disebut sebagai seniman Indonesia karena ia warga negara Indonesia.

Estetika Sastra Buruh

MUSTAFA ISMAIL | @musismail

PENYAIR yang aktivis sastra buruh,Wowok Hesti Prabowo, menulis puisi seperti ini, pulang kerja shift dua/istriku membuka pintu dengan air mata/…//aku jadi ingat/ malam Minggu kemarin anakistriku kuajak putar-putar Karawaci/ sehabis nonton kembang api dari luar negeri/tentu kami tak beli apa-apa selain Indomie…

Geunteut

MUSTAFA ISMAIL | @musismail

Ketika kecil, di kampung saya di Aceh, saya sering takut terhadap beragam makhluk halus yang seram. Salah satunya adalah geunteut. Makhluk ini digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar. Ia suka mengambil seseorang, lalu menempatkannya di sebuah tempat yang sulit kadang dijangkau, misalnya, di tengah perdu bambu dan di atas pohon.

Media Sosial

Mustafa Ismail, @musismail | 
Sumber: Koran Tempo, Sabtu, 7 Desember 2013.

Beberapa hari lalu, saya terpaksa “memecat” seorang teman di jejaring sosial Facebook. Sebab, dalam sepekan ini, ia kerap menulis status yang narsisistik sambil menghina-hina orang lain. Ada lagi beberapa kawan di Facebook yang bakal saya remove. Sebab, statusnya sungguh tidak asyik untuk dibaca: mencela-cela orang dan pihak lain, terlepas dari seberapa buruknya orang yang dicela itu.  Ia memang tidak menyebut (mention) nama saya. Namun status dia bersliweran di halaman muka Facebook saya.

Dari Pengunjung Stasiun Senen sampai “Warung” Bulungan

Sumber: Sinar Harapan, Sabtu 29 Februari 2009

Jakarta – Di areal lapangan yang menghubungkan antara Stasiun Senen dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, di tengah penumpang kereta api yang ingin pulang dan pergi, di antara pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis kota Jakarta, diskusi bertajuk “Sepilihan Puisi Penyair” karya Giyanto Subagio-Kongkow Sastra Planet Senen-Labo Sastra” ini pun digelar. Tepatnya di Plaza Depan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat, Jalan Stasiun Senen Nomor 1, Senin (23/2).

Pembicaranya penyair Dharmadi dan sastrawan juga pengamat budaya Mustafa Ismail.
Terpal dilebarkan karena pelataran Senen barusan “diserbu” oleh hujan. Areal kosong yang kerap dijadikan lahan parkir itu pun disulap menjadi tempat pembahasan puisi karya Giyanto Subagio. Orang-orang yang berminat dengan dunia sastra, baur dengan para penjaja jualan di Senen dan penumpang kereta di Stasiun Senen yang melintasi areal itu.