Monthly Archives: July 2014

Comal

Comal, Pemalang, Jawa Tengah, mendadak terkenal karena jembatan di sana, yang menghubungian jalur utama Pantura Jawa, ambruk dua pekan lalu. Pemerintah pun ngebut untuk memperbaikinya agar bisa digunakan untuk mudik. Tapi hanya satu jalur yang bisa dilewati. Akibatnya, kendaraan dari dua arah harus berbagi jalur: jalur satu mobil dari arah Jakarta dan satu mobil dari arah semarang. Ini membuat mobil-mobil harus mengantri panjang.

Laku Prihatin Puasa

Mustafa Ismail | @musismail

Setiap sore, selama Ramadan, Pondok Petir selalu ramai. Pondok Petir adalah sebuah kelurahan di kawasan Depok. Tapi, saya tidak sedang bicara tentang kelurahan. Yang saya bicarakan adalah jalanan di sekitar kelurahan Pondok Petir. Kendaraan, terutama sepeda motor, hilir mudik. Orang-orang menyerbu tempat-tempat menjual makanan dan minuman untuk berbuka.

Nafsu Politik

Mustafa Ismail, pegiat kebudayaan, @musismail | Sumber: Koran Tempo, Senin, 21 Juli 2014

Saya sempat membayangkan, begitu pemilihan presiden pada 9 Juli lalu lewat, media sosial langsung senyap. Ternyata bayangan saya keliru. Setelah hari H pemilihan presiden, “perang” di media sosial tak berakhir. Masing-masing pendukung pasangan calon tetap begitu semangat mem-posting apa saja, baik yang mendukung calon presidennya, maupun yang menyerang calon lain.

Kita tidak perlu mempersoalkan hiruk-pikuk pilpres yang positif. Anggap saja ini bagian dari kemeriahan sebuah pesta. Namun, yang sangat mengganggu adalah hiruk-pikuk negatif, seperti mencerca pihak lain hingga menebar fitnah dan kebohongan. Ironisnya, sebagian dari mereka yang melakukan hal tersebut sedang menjalankan ibadah puasa. Padahal puasa adalah prosesi untuk mengendalikan diri dari hal-hal negatif.

Tragedi Quick Count Pilpres

Hitung cepat alias quick count (berdasarkan survei atau riset) adalah bagian dari tradisi keilmuan. Riset yang benar tentulah harus jujur, pemilihan dan proporsi sanple benar, jumlah sampel mencukupi, dan data-datanya bisa diverifikasi (ada secara fisik). Prosesnya pun dilakukan dengan benar dan jujur.

Adapun riset abal-abal dikerjakan sesuai dengan kepentingan si pemesannya. Itu sangat mudah diuji — terpenting dia berani membuka data-data mentahnya. Semua data mentah itu bisa diverifikasi ulang, termasuk diuji metodelogi dan analisisnya. Sehingga diperoleh hasil apakah survei itu telah menjalankan prosedut yang benar.

Pertunjukan

MUSTAFA ISMAIL | Kolom Piala Dunia | Sumber: Koran Tempo, Kamis 3 Juli 2014

Untunglah masih ada Piala Dunia yang memberi kita sedikit alasan untuk menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk capres-capresan. Jika tidak, mungkin kita akan “beku” dalam perangkap wacana tentang calon presiden, yang liar tak terkendali. Tengoklah di media sosial, misalnya, bagaimana orang-orang memproduksi “mitos-mitos” tentang jagoan sekaligus tentang lawan mereka. Sekian banyak waktu dan energi tertumpah di sana.

Media sosial-seperti Facebook dan Twitter nyaris melulu berisi berbagai hal-ihwal calon presiden. Hal itu membuat media sosial tidak lagi berwarna. Media ini menjadi sangat membosankan dan sama sekali tak segar. Yang banyak terlihat hanya saling serang antara pendukung kandidat. Media sosial pun tidak lagi menawarkan kegembiraan, melainkan suasana panas dan kebisingan.