Monthly Archives: April 2015

Kota, Identitas dan Kebudayaan

Tulisan berikut adalah makalah saya dalam Seminar Kebudayaan “Menggagas Tangerang Selatan Sebagai Kota Budaya” di BSD Serpong, Rabu, 22 April 2015. Seminar yang diadakan Kantor Kebudayaan dan Parawisata ini menghadirkan tiga pembicara. Selain saya, ada Chavcai Saifullah dan Samudro. Seminar ini dihadiri oleh para seniman, budayawan, birokrasi, pengusaha, politisi, dan para pengambil keputusan di Banten.

Tentang Jargon, Citra dan Identitas Kota

Tulisan saya ini adalah versi sangat ringkas dari makalah saya untuk seminar kebudayaan “Menggagas Tangerang Selatan Sebagai Kota Budaya” yang diadakan oleh Kantor Kebudayaan dan Parawisata, Tangerang Selatan, di restoran Telaga Seafood BSD, Serpong, Banten, Rabu, 22 April 2015. Selain saya (Mustafa Ismail), pembicara dalam seminar yang dihadiri sekitar 100 orang seniman, budayawan, pegiat seni-budaya, kalangan birokasi, serta masyarakat umum itu adalah Chavcai Saifullah (Ketua Dewan Kesenian Tangerang Selatan) dan Samudro (akademisi).

Peraih Pulitzer 2015

Pulitzer adalah penghargaan tertinggi bidang jurnalisme cetak di Amerika Serikat. Namun, penghargaan ini tidak hanya dibetikan untuk karya jurnalitisk, juga untuk karya sastra, drama dan musik. Pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Herbert Bayard Swope dari Harian New York World. Namun kala itu, hanya ada empat kategori yakni Reporting (Herbert Bayard Swope), Editorial Writing (New York Tribune), Sejarah (With Americans of Past and Present Days yang ditulis His Excellency J.J. Jusserand), dan kategori Biography or Autobiography (Julia Ward Howe yang ditulis Laura E. Richards).

Hadiah ini mengambil nama Joseph Pulitzer, seorang jurnalis berkebangsaan Hungaria (1847- 1911). Ia memperkenalkan teknik ” jurnalisme baru untuk surat kabar yang ia dirikan pada 1880-an. Sejarah Pulitzer lebi lengkap bisa dibaca di sini. Dalam perkembangannya, hadiah in kemudian juga diberikan kepada bidang seni, yakni sastra, drama dan musik. Kali ini, peraih penghargaan Pulitzer yang diumumkan di disampaikan di Universitas Columbia, New York, pada 20 April, itu dimenangkan oleh:

Jurnalistik

Pelayanan Umum: The Post and Courier of Charleston, South Carolina
Berita Terkini: karyawan The Seattle Times
Liputan Investigasi: Eric Lipton dar The New York Times dan karyawan The Wall Street Journal
Liputan Penjelasan: Zachary R. Mider dari Bloomberg News
Liputan Lokal: Rob Kuznia, Rebecca Kimitch dan Frank Suraci dari Daily Breeze of Torrance, California
Liputan Nasional: Carol D. Leonnig dari The Washington Post
Liputan Internasional: karyawan The New York Times
Penulisan Feature: Diana Marcum dari Los Angeles Times
Komentar: Lisa Falkenberg dari Houston Chronicle
Kritik: Mary McNamara dari Los Angeles Times
Penulisan Tajuk Rencana: Kathleen Kingsbury dari The Boston Globe
Karikatur: Adam Zyglis dari The Buffalo News
Foto Berita Terkini: karyawan foto St. Louis Post-Dispatch
Foto Cerita: Daniel Berehulak, juru foto paruh waktu, The New York Times

Karya tulis dan Drama
Fiksi:
All the Light We Cannot See oleh Anthony Doerr (Scribner)

Drama:
Between Riverside and Crazy oleh Stephen Adly Guirgis
Sejarah: Encounters at the Heart of the World: A History of the Mandan People oleh Elizabeth A. Fenn (Hill and Wang)

Biografi:
‘The Pope and Mussolini: The Secret History of Pius XI and the Rise of Fascism in Europe oleh David I. Kertzer (Random House)

Puisi:
Digest oleh Gregory Pardlo (Four Way Books)

Nonfiksi Umum:
‘The Sixth Extinction: An Unnatural History oleh Elizabeth Kolbert (Henry Holt)

Musik
Anthracite Fields oleh Julia Wolfe (G. Schirmer Inc.)

[MI]

Kesetiaan dan Kerinduan yang Romantis

CATATAN: Mustafa Ismail | Ini adalah pengantar untuk buku puisi Doel CP Allisah “Nyanyian Miris”. |

kesetiaan adalah,
senyum bocah-bocah
tanpa kebanggaan
kesetiaan adalah,
manusia-manusia lapang dada
solider dan toleransi
kesetiaan adalah,
kamu yang di jiwaku
dan kita saling memberi pengertian%

Seni, Muri, dan Lain-lain

Mustafa Ismail, penggiat seni dan pemerhati manajemen seni

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Aceh tentu berbangga atas penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) kepada seniman tutur Aceh Muda Belia yang berhasil memecahkan rekor membawa hikayat selama 26 jam beberapa waktu lalu. Apalagi, ini penghargaan pertama yang diraih oleh pelaku seni di Aceh. Penghargaan itu sekaligus penegasan bahwa pelaku seni Aceh mampu menunjukkan diri, tak hanya di Aceh, juga di luar Aceh.
Tapi, tentu pula, masyarakat Aceh, termasuk pelaku seni beserta Dewan Kesenian Aceh dan Dewan Kesenian Banda Aceh yang memfasilitasi pentas tersebut, tidak terlalu lama larut dalam rasa bangga itu. Ini adalah awal untuk mencetak keberhasilan berikutnya. Saatnya kini kembali untuk bekerja untuk menghasilkan karya-karya kreatif (bagi pelaku seni) dan mendukung tersosialisasinya hasil-hasil karya kreatif itu.
Selama ini, kerja kreatif dan promosi hasil kerja kreatif itu tidak berjalan berbarengan dan saling mendukung. Seniman lebih banyak berjalan sendiri. Sementara kerja-kerja promosi nyaris tidak terjadi, termasuk oleh lembaga-lembaga yang diharapkan bisa memikirkan dan mewujudkan hal ini semacam Dewan Kesenian maupun pihak pemerintah. Promosi karya kreatif yang dilakukan masih bersifat sporadis, belum menjadi agenda yang terencana dan terarah.
Pelaku-pelaku seni Aceh, terutama pelaku seni tradisi, baru berkesempatan tampil jika ada acara-acara rutin seperti Pekan Kebudayaan Aceh. Sangat sedikit dari mereka yang bisa menunjukkan kebolehan dalam forum-forum lain, apalagi di luar Aceh. Pentas-pentas seni di luar Aceh, termasuk di luar negeri, kerap diisi oleh sanggar-sanggar tertentu. Karya-karya yang kerap dibawakan ke luar Aceh juga sering yang itu-itu saja.
Padahal, di Aceh begitu banyak karya seni, terbentang dari Sabang sampai Tamiang. Tambah lagi, di Aceh tidak ada lembaga yang memang secara khusus memfokuskan perhatian pada menggali dan mengangkat kembali karya-karya seni tradisi ini. Lembaga-lembaga kesenian yang ada, termasuk bidang-bidang kerja yang menangani seni di instansi pemerintah, belum mampu memberi perhatian yang cukup untuk masalah ini.
Masalah ini sangat urgen. Jika tidak ditangani dengan baik dan lebih dini, karya-karya seni tradisi secara perlahan dan pasti akan hilang percuma. Sebab, pelaku-pelaku seni tradisi yang ada sekarang sebagian sudah tua, bahkan uzur. Sementara penerusnya sangat sedikit. Itu ditambah lagi aprioritas kaum muda, yang lebih bangga mengusung budaya modern — sebagian akibat langsung dari serbuan modernitas. Maka, lengkaplah kesunyian yang dihadapi oleh karya-karya seni tradisi.
Kondisi seperti ini sangat mencemaskan. Masyarakat Aceh masa depan boleh jadi betul-betul akan menghadapi kenyataan pahit: kehilangan identitas keacehannya. Anak-anak Aceh masa depan tidak mengenal seni dan budaya kakek-neneknya. Sebab, seni adalah salah satu identitas lokal, yang harusnya tetap melekat dan terpelihara dengan baik. Salah satu keragaman dan kekayaan unik yang dimiliki sebuah daerah atau teritorial adalah karya seni. Ini menjadi pembeda antara satu daerah dengan daerah lain.
Maka itu, event-event yang mengangkat seni tradisi menjadi sangat penting. Pentas-pentas yang mendorong orang untuk memberi penghargaan tertentu seperti Muri perlu digalakkan. Mungkin ke depan ada lagi yang memfasilitasi pentas didong 100 jam misalnya, pentas rapa’i tujuh hari tujuh malam, atau pentas seni-seni lain yang bisa mencatat rekor tertentu. Ini akan menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan karya seni.
Maka itu, tentulah yang mesti diangkat untuk mencapai rekor-rekor semacam ini adalah karya-karya seni yang belum dikenal secara luas di luar Aceh, bukan jenis seni yang sudah dikenal atau yang sudah sering ditampilkan. Oleh karena itu, seharusnya memang ada sebuah tim khusus yang dibentuk untuk keperluan ini. Mereka bertugas menginventarisir, menggali, dan kemudian mempromosikan karya-karya seni tradisi itu dengan berbagai cara, termasuk mengikutkan dalam diskusi, pameran, pentas eksebisi, ajang lomba, penghargaan, termasuk semacam Muri.
Memang, penghargaan seperti Muri tidak berorientasi pada kualitas. Tapi lebih pada semangat sekaligus daya tahan seseorang untuk terus melakukan kerja tertentu dalam waktu tertentu secara terus-menerus. Termasuk dalam hal ini kerja kreatif. Dengan kata lain, Muri sebetulnya lebih berorientasi pada kuantitas, pada angka-angka, bukan pada isi dan substansi. Untuk pengembangan dan peningkatan kualitas berkesenian rekor semacam ini memang tidak berperan besar. Tapi untuk kebutuhan promosi seni, rekor semacam ini sangat penting.
Tentu saja, promosi juga perlu diimbangi dengan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas. Memperbanyak workshop, pelatihan, pentas-pentas dan lomba-lomba, adalah penting untuk mendukung pengembangan kualitas ini. Termasuk, memberi beasiswa kepada para seniman untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan seni penting sesuai bidangnya, dan juga mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh.
Beasiswa seni, bukan hanya akan membuat seniman itu tambah profesional, juga akan membentangkan jaringan seni yang lebih luas dengan dunia luar. Jadi, dengan begitu, paling tidak, ada dua hal yang bisa terengkuh sekaligus sekali mendayung perahu: meningkatkan kapasitas, kualitas, dan profesionalitas seniman, sekaligus ikut membuka jalan untuk mempromosikan seni yang ditekuninya.
Misalnya, seorang seniman diberi beasiswa untuk belajar sastra di Australia, secara otomatis dan alamiah ia akan ikut memperkenalkan seni Aceh, termasuk bidang yang digelutinya, kepada publik di sana. Begitu pula jika seniman-seniman lain dikirim belajar ke berbagai belahan dunia, ia akan secara alamiah memperkenalkan dan mempromosikan seni Aceh, termasuk bidang yang ditekuninya, ke tempat ia belajar itu.
Ini promosi yang relatif murah, karena dilakukan terus menerus selama masa ia belajar. Ini akan lebih efektif dibandingkan dengan pentas-pentas eksebisi, yang biasanya paling lama pentasnya dua-tiga hari. Persentuhannya dengan banyak orang, termasuk pelaku-pelaku, profesional dan akademikus seni di tempatnya belajar juga akan memberi nilai tambah untuk promosi ini. Dan, pada akhir tugas belajarnya, ia akan menulis atau mementaskan karya akhir tentang seni yang digelutinya.
Sementara dengan mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh akan membuat seni-seni tradiri khas Aceh bisa dipelajari secara lebih luas dan massal, tidak hanya oleh anak-anak Aceh, juga oleh orang dari luar Aceh. Terpenting dicatat, di perguruan tinggi seni itu ada jurusan seni tradisi Aceh, selain seni-seni moderen. Kalau di Universitas Indonesia ada jurusan Sastra Jawa, di perguruan tinggi seni di Aceh tentu harus ada Sastra Aceh dan Seni Aceh.
Dengan demikian, orang-orang yang berminat untuk belajar sastra Aceh atau seni Aceh bisa datang ke perguruan tinggi itu. Merujuk dari pengalaman UI mengelola Jurusan sastra Jawa, yang belajar di sana tidak hanya orang Jawa, juga mahasiswa non Jawa. Jadi, bukan mustahil kalau orang dari berbagai belahan dunia bakal tertarik belajar seni atau sastra Aceh. Apalagi, nama Aceh kini telah mendunia, yang tentu saja membuat orang penasaran untuk mengetahuinya lebih lanjut, termasuk mempelajari budayanya.
Jadi, pengembangan seni/kebudayaan Aceh, memang perlu dilakukan dengan berbagai cara dan lini. Terpenting, sekali lagi, bagaimana mengintegrasikan semua itu dalam sebuah konsep yang jelas dan terarah, dengan rencana kerja yang rill dan terukur, dengan dukungan dan peran penuh dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. ***

Depok, 4 Februari 2010

Membaca Kegelisahan Giyanto Subagio

Mustafa Ismail | Tulisan ini untuk pengantar diskusi puisi-puisi Giyanto Subagio di Planet Senen, 23 Februari 2009.

Karya seni, betapa pun berat dan luhurnya beban yang emban, tetap wilayah personal. Ia adalah hasil interaksi antara kreator dengan persoalan yang merangsang atau menginspirasinya. Apakah itu itu berwujud kegembiraan, ketakjuban, bahkan keresahan, dan kemarahan. Saya akan melihat puisi-puisi Giyanto Subagio dalam konteks ini: pergulatan sang penyair dengan lingkungan yang melingkupinya.

Tukang Bakso dan Gaji Direktur

Suatu kali — sekitar dua tahun lalu — saya mengobrol dengan seorang abang penjual bakso sepeda yang sering keliling di kompleks-komplek perumahan dan perkampungan di sekitar tempat tinggal saya di kawasan Pamulang. Ini biasa saya lakukan dengan penjual apa saja — saat saya membeli sesuatu pada mereka. Tentu mereka senang diajak ngobrol.

Kisah Supir Bus yang Kemudian Jadi Desainer Grafis

Ada banyak kisah inspiratif di sekeliling kita. Mereka tak sekedar kreator, tapi juga menjadi pemimpin bagi orang-orang di sekitarnya. Ada kisah, misalnya, seorang supir bus kemudian menajadi juragan bus plus berbagai usah lainnya. Satu hal yang pasti: mereka adalah orang-orang yang pantang menyerah dan merawat sekaligus mewujudkan impiannya dengan sekuat usaha. Berikut adalah salah satu kisahnya, yang saya kutip dari Kompas, Selasa, 14 April 2015. [MI]

Kisah Inspiratif: Marbot Masjid dan Eksekutif Muda

Kisah ini dikirim oleh seorang teman di sebuah grup WhatsApp. Saya kutip di sini karena sangat inspiratif. Ia memberi pelajaran penting bagi kita tentang “nilai”. Saya tidak akan menyebut nilai apa agar saudara semua membaca sendiri apa yang bisa dipetik dari kisah ini. Disebut di posting tersebut ini adalah kisah nyata. Namun itu tidak penting: kisah nyata atau bukan, terpenting bisa mengajak kita untuk terdiam sejenak dan bercermin. Selamat membaca.