Monthly Archives: March 2016

Sehari Menulis 15 Puisi?

Sudah lama saya tidak bertemu Apa Maun. Malam ini saya kaget, tiba-tiba satu gerbong dengan saya di kereta Commuterline jurusan Tanah Abang (Jakarta) – Serpong (Tangerang Selatan). “Ho trep that hana deuh keuh Nyak Muih,” tanya Apa Maun. Maksudnya, kemana saja selama ini kok lama sekali tidak bertemu. “Peue sibok that?” Tanyanya lagi. Apakah sibuk sekali?

Taksi Online versus Taksi Konvensional, Kok Ribut?

Perubahan adalah Keniscayaan.

Masih ingat pager? Itu lho, alat yang bisa menerima pesan namun si pengirim pesan harus menelpon operator untuk menitip pesan itu. Alat itu sangat populer di awal-awal hingga akhir 1990-an. Ketika saya mulai menjadi jurnalis di Jakarta pada 1997, pager adalah andalan utama untuk menerima pesan dari kantor ke mana kami harus bergerak meliput. Kala itu, kemudian, saya tidak hanya punya pager, juga punya sebuah perangkat telepon genggam yang hanya bisa menghubungi, tapi tak bisa menghubungi. Namanya Telepoin.

Download Gratis Buku Puisi Tarian Cermin Mustafa Ismail

Pada 2007, untuk pertama kalinya buku puisi tunggal saya terbit. Judulnya “Tarian Cermin”. Buku itu diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA) yang digawangi oleh penyair Doel CP Allisah, almarhum. Penerbitan itu dibiayai oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Tak heran jika di salah sudut cover buku itu ada logo BRR. Penerbitan itu bersamaan dengan beberapa buku sastrawan Aceh lainnya.

PMTOH

Sesungguhnya ini nama bus. PMTOH adalah bus jurusan Banda Aceh-Medan-Jakarta, hingga Solo, Jawa Tengah. Namun nama itu menjadi nama salah satu jenis kesenian di Aceh, yakni seni tutur atau peugah haba. Tentu saja tidak ujuk-ujuk. Gara-garanya, Tengku Adnan, seorang seniman tutur di Aceh kerap mengutip klakson bus itu dalam pertunjukannya. Jadilah kesenian yang dibawakannya menjadi PMTOH dan nama Tengku Adnan ditambahkan dengan kata PMTOH di belakangnya sehingga menjadi Teungku Adnan PMTOH.

Perangkap Marketing di Media Sosial

Terkadang kita terkecoh dengan status-status atau posting kontroversial media sosial. Kita lupa: dengan ikut “meramaikannya” — entah mengecam, meledek, bahkan membully — sesungguhnya kita telah masuk dalam perangkap marketing. Tanpa sadar kita telah membuat nama yang kita kecam itu menjadi terkenal.