Monthly Archives: July 2017

Jangan Cepat Patah Hati Menulis Puisi

Temans, kalau mengirim puisi ke media (koran, majalah dsb) — termasuk antologi puisi — puisi-puisinya digabungkan dalam satu file saja. Jangan satu puisi dijadikan satu file sehingga kalau mengirim 20 puisi menjadi 20 file. Itu sangat merepotkan editor/kurator untuk membukanya satu persatu untuk membaca puisi Anda.

Like This

Mustafa Ismail | @musismail
Sumber: Koran Tempo, RABU, 22 JANUARI 2014

Jejaring sosial telah mengubah secara radikal cara orang berkomunikasi. Dulu, hanya dua pola komunikasi yang lazim digunakan: oral dan tekstual. Belakangan, dikenal pula komunikasi secara visual. Teknologi audio-visual memungkinkan orang menyampaikan informasi dengan gambar plus suara lewat video dan televisi. Orang pun bisa berbicara secara jarak jauh sambil “bermuka-muka” di telepon seluler.

13 Cerita di Buku Cerpen Lelaki yang Ditelan Gerimis

Ini adalah pengantar buku kumpulan cerpen saya Lelaki yang Ditelan Gerimis yang diterbitkan oleh sebuah penerbit indie, Imaji Indonesia, Juni 2017. Buku itu memuat 13 cerpen saya. Cerpen-cerpen itu pernah dimuat di sejumlah media seperti Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Jawa Pos, Lampung Post dan Riau Pos pada rentang 2003 hingga 2017. Sebagian lagi belum pernah diterbitkan.

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu di pinggir jalan. Politisi. Ekonom. Pejabat. Aktivis. Dan sebagainya.

Pendaftaran SMA di Depok Semi Online?

Kemarin (Senin) saya bersama isteri dan anak yang baru lulus SMP ke sekolahnya untuk mengambil login untuk mendaftar sekolah ke sebuah SMA di wilayah Kota Depok. Tentu saja harus antri, karena banyak orang tua bersama anaknya sedang menunggu hal serupa.

Puisi Odong-odong dan Odong-odong Puisi

Banyak yang “baper” pada status saya tentang Puisi dan Odong-odong di akun Mustafa Ismail. Makanya saya posting ulang status itu di akun saya Mustafa Ismail II ini — siapa tahu berguna. Tapi satu hal ingin saya permaklumkan: status ini saya tulis bukan “sebagai kesombongan atau bentuk keangkuhan”. Tidak sama-sekali. Saya menulis status ini untuk mengajak kita berpikir dan terus belajar. Tidak cepat puas. Tidak cepat merasa besar.