Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Bertanyalah Sebelum Dilarang

Minggu pagi, 29 Desember 2013, saya bersama Edgina, putriku, naik becak dari mulut Jalan Yos Sudardo, seberang alun-alun Batang, Jawa Tengah. Kami habis jalan-jalan pagi dan duduk-duduk di alun-alun. Kami sempat membeli batagor di bagian selatan alun-alun yang luar biasa murahnya: satu porsi Rp 3 ribu.

Sehabis minum di Starling (aku mendengar pertama kali istilah ini dari kawan Harun Mahbub) — maksudnya Starbuck Keliling — kami meninggalkan alun-alun. Kami berjalan kaki ke arah utara untuk pulang ke rumah mertua. Anakku sempat protes ketika kuajak berjalan kaki. Sebab sejak awal ia ingin naik becak. “Sudah lama nggak naik becak,” katanya.

Tapi aku memberi pengertian bahwa lebih baik naik becak di seberang alun-alun, di mulut jalan Yos Sudarso. Tiba di sana, seorang Pak Becak (beliau sudah bapak-bapak banget, bukan abang-abang lagi) sudah melihat. Ia tampak bersiap-siap menyambut kami. Kami pun menghampirinya, tidak ke becak lain yang memang banyak mangkal di sana.

Singkat cerita, tanpa bertanya apa pun, kami naik becak itu — bukan memanjat! (Emang pohon kelapa dipanjat?!). Sepanjang jalan, aku asyik merekam perjalanan dengan kamera ponsel — khas “turis” pokoknya. Sementara putriku juga asyik sendiri menikmati naik becak. (Tolong adegan ini jangan ditiru. Ajaklah anak Anda mengobrol tentang apa saja yang ditemui di perjalanan dan menceritakan kisahnya, bukan masing-masing asyik sendiri).

Tak sampai 10 menit sudah sampai di depan rumah. Memang dekat kok. “Kurang dari satu kilometer,” kata orang Batang asli, Dianing Widya. Tiba di depan rumah — sempat kelewatan dikit sehingga harus balik — aku turun dan membayar. Aku sempat teriak-teriak (kayak di hutan haha..) ke iparku berapa ongkos becak dari alun-alun, tapi mereka seperti tidak mendengar. Ketika kutanya ke Pak Becak, ia menjawab, “Terserah.” Bingung kan?

Aku lalu mengeluarkan uang Rp 10 ribu. Dan aku sempat menunggu sejenak siapa tahu ada kembalian. Tapi rupanya tidak. Pak Becak kemudian beringsut, melanjutkan perjalanan. “Mau dikasih berapa pun tidak akan dikembalikan,” kata iparku. Di siini harus kasih uang pas. “Biasanya dari alun-alun ke rumah ongkosnya Rp 5 ribu.”

Jadi begitulah saudara-saudara, pepatah tempo doeloe, zaman kuda gigit besi, tetap berlaku hingga kini di zaman digital: malu bertanya akan menyesal kemudian. Aku tidak bertanya dulu sebelum berangkat berapa ongkos becak (dari mana ke mana). Juga tidak bertanya, atau bernegosiasi dengan tukang becak, tentang ongkosnya.

Bayangkan kalau aku ngasih Rp 50 ribu. “Belum tentu juga ada kembalian,” entah kata siapa kemarin – soalnya banyak yang kemudian ngasih “wejangan”. Jadi bertanyalah sebelum dilarang, apalagi ketika kita berada di kampung orang. Kecuali berada di kampung kucing — tidak usah tanya-tanya!

Batang, 30 Desember 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *