Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Bertajuk “Dongeng Tentang Kita”, Malam Sastra Margonda (MSM) yang diadakan oleh Komunitas Sastra Margonda untuk memperingati Hari Dongeng Sedunia yang jatuh pada 20 Maret 2020. Malam Sastra Margoda diadakan di Miebiee Pasta, More »

Merayakan Dongeng

Merayakan Dongeng

Merayakan Hari Dongeng Sedunia Ayo kita bertemu dan ngopi di #malamsastramargonda Sabtu, 14 Maret 2010 Pukul 19.00-22.30 di @miebiipasta_ Jalan Merpati 6 No 237 Pancoran Mas Depok More »

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda digagas oleh Mustafa Ismail, Tora Kundera dan Willy Ana. Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi para pecinta seni dan sastra di Depok, terutama anak muda, untuk berekspresi sekaligus mengapresiasi More »

Merayakan Hujan dan Puisi

Merayakan Hujan dan Puisi

Hujan dan Puisi seperti Sapardi dan Bulan Juni. Mereka mengajak kita dalam bait-bait yang membungahkan hati. Nah, menyambut Februri, kita merayakan hujan dan puisi, sambil membaca puisi-puisi cinta karya sendiri, karya siapa More »

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di More »

 

Bertanyalah Sebelum Dilarang

Minggu pagi, 29 Desember 2013, saya bersama Edgina, putriku, naik becak dari mulut Jalan Yos Sudardo, seberang alun-alun Batang, Jawa Tengah. Kami habis jalan-jalan pagi dan duduk-duduk di alun-alun. Kami sempat membeli batagor di bagian selatan alun-alun yang luar biasa murahnya: satu porsi Rp 3 ribu.

Sehabis minum di Starling (aku mendengar pertama kali istilah ini dari kawan Harun Mahbub) — maksudnya Starbuck Keliling — kami meninggalkan alun-alun. Kami berjalan kaki ke arah utara untuk pulang ke rumah mertua. Anakku sempat protes ketika kuajak berjalan kaki. Sebab sejak awal ia ingin naik becak. “Sudah lama nggak naik becak,” katanya.

Tapi aku memberi pengertian bahwa lebih baik naik becak di seberang alun-alun, di mulut jalan Yos Sudarso. Tiba di sana, seorang Pak Becak (beliau sudah bapak-bapak banget, bukan abang-abang lagi) sudah melihat. Ia tampak bersiap-siap menyambut kami. Kami pun menghampirinya, tidak ke becak lain yang memang banyak mangkal di sana.

Singkat cerita, tanpa bertanya apa pun, kami naik becak itu — bukan memanjat! (Emang pohon kelapa dipanjat?!). Sepanjang jalan, aku asyik merekam perjalanan dengan kamera ponsel — khas “turis” pokoknya. Sementara putriku juga asyik sendiri menikmati naik becak. (Tolong adegan ini jangan ditiru. Ajaklah anak Anda mengobrol tentang apa saja yang ditemui di perjalanan dan menceritakan kisahnya, bukan masing-masing asyik sendiri).

Tak sampai 10 menit sudah sampai di depan rumah. Memang dekat kok. “Kurang dari satu kilometer,” kata orang Batang asli, Dianing Widya. Tiba di depan rumah — sempat kelewatan dikit sehingga harus balik — aku turun dan membayar. Aku sempat teriak-teriak (kayak di hutan haha..) ke iparku berapa ongkos becak dari alun-alun, tapi mereka seperti tidak mendengar. Ketika kutanya ke Pak Becak, ia menjawab, “Terserah.” Bingung kan?

Aku lalu mengeluarkan uang Rp 10 ribu. Dan aku sempat menunggu sejenak siapa tahu ada kembalian. Tapi rupanya tidak. Pak Becak kemudian beringsut, melanjutkan perjalanan. “Mau dikasih berapa pun tidak akan dikembalikan,” kata iparku. Di siini harus kasih uang pas. “Biasanya dari alun-alun ke rumah ongkosnya Rp 5 ribu.”

Jadi begitulah saudara-saudara, pepatah tempo doeloe, zaman kuda gigit besi, tetap berlaku hingga kini di zaman digital: malu bertanya akan menyesal kemudian. Aku tidak bertanya dulu sebelum berangkat berapa ongkos becak (dari mana ke mana). Juga tidak bertanya, atau bernegosiasi dengan tukang becak, tentang ongkosnya.

Bayangkan kalau aku ngasih Rp 50 ribu. “Belum tentu juga ada kembalian,” entah kata siapa kemarin – soalnya banyak yang kemudian ngasih “wejangan”. Jadi bertanyalah sebelum dilarang, apalagi ketika kita berada di kampung orang. Kecuali berada di kampung kucing — tidak usah tanya-tanya!

Batang, 30 Desember 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *