Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Catatan Kurasi Puisi dan Cerpen Anugerah Litera (2)

>Anugerah Sastra Litera 2018 menemukan banyak karya penulis muda. Ini adalah catatan kami (MI, Iwan Kurniawan dan Mahrus Prihany) sebagai juri dan sekaligus kurator kegiatan itu.

Dari nama-nama yang muncul itulah kami melihat masa depan sastra Indonesia masih cerah. Sebagian pemilik karya tersebut adalah anak-anak muda yang masih begitu panjang masanya untuk terus belajar dan berkarya. Mereka, antara lain, adalah Alex R Nainggolan (kelahiran 1982), Armin Bell (1980), Elvan De Porres (1993), Fatah Anshori (1994), Fitriawan Nur Indrianto (1987), Irma Agryanti (1986), Kim Al Ghozali AM (1991), Raedu Basha (1988), Setia Naka Andrian(1989), Surya Gemilang(1998), Tjak S. Parlan (1975), Wahyu Gandi G (1996), dan Willy Ana (1981).

Mereka mempunyai masa depan yang panjang. Tidak ada keraguan sedikit pun di antara kami untuk memberi tempat yang pantas bagi mereka untuk tampil dalam buku ini, yang memuat semua unggulan dari Anugerah Sastra Litera. Namun, kami sengaja tidak menandai mana puisi terbaik dan mana cerpen terbaik di buku ini. Itu kami maksudkan agar pembaca bisa menikmati karya dalam buku itu seluas-luasnya, sebebas-bebasnya, tanpa dibebani penilaian para juri. Yang patut dicatat adalah bahwa semua puisi dan cerpen dalam buku ini adalah karya-karya unggulan yang dimuat di Litera selama 2017.

Kami perlu menggarisbawahi bahwa karya-karya pilihan ini kami anggap memberikan kesegaran baru. Untuk puisi, kesegaran itu ada pada tema, gagasan, simbol, diksi, hingga cara bertutur. Tentu tak kalah penting adalah kedalaman dan intensitas pengungkapan dan penuturan itu sendiri.

Memang tidak mudah untuk mencari puisi-puisi yang benar-benar segar dalam segala hal. Tapi, minimal karya itu memiliki kesegaran dalam salah satu hal, entah itu tema, diksi, simbol atau cara ungkap dan pengungkapannya mendalam. Kami ingin mengajak para penyair (muda) ini untuk menjadi diri sendiri dan mencari kemungkinan-kemungkinan estetika baru, tanpa bergantung pada penyair sebelumnya.

Inti kreativitas adalah mencari dan menjelajah. Salah satu contoh karya menarik dalam buku ini adalah puisi “Petuah Kampung” karya Willy Ana. Willy Ana berusaha untuk menjelajah tema daerah kelahirannya, Bengkulu. Ia tampak lihai dan lancar bermain-main dengan simbol-simbol dan diksi yang dipungut dari budaya leluhurnya, seperti ikan mungkus, priuk, rejung, seperti rawang di lubuk betung dan meriam bambu. Ia berhasil memasukkan budaya lokal ke dalam puisi itu dengan begitu kuat tapi tidak bersulit-sulit. “Petuah Kampung” tetap hadir sebagai puisi yang reflektif tapi masih asyik untuk dinikmati.

BERSAMBUNG…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *