Tiket Pesawat Mahal dan Kreativitas Khas Indonesia

Tiket Pesawat Mahal dan Kreativitas Khas Indonesia

Seorang kawan yang sedang berkuliah program doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memposting sebuah video di Instagram. Isinya: mengabarkan bahwa ia dan sejumlah kawan lain sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Namanya More »

Lomba Baca Puisi Festival Literasi Padangpanjang

Lomba Baca Puisi Festival Literasi Padangpanjang

Padangpanjang termasuk salah satu kota yang sangat aktif dalam bidang literasi dan seni. Ini memang bisa dipahami, karena di kota itu berdiri sebuah kampus seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Saya More »

Sebelum Tiba di Jakarta, Selfie Dulu di Malaysia

Sebelum Tiba di Jakarta, Selfie Dulu di Malaysia

Sungguh sulit dipercaya bahwa harga tiket Banda Aceh-Jakarta bisa dua kali lipat dari pada harga tiket Banda Aceh-Kuala Lumpur-Jakarta. Tapi faktanya memang demikian. Akibatnya orang-orang yang sering berpergian di Aceh ramai-ramai membuat More »

Pesta Sastra Akhir Tahun, Banjarbaru dan Bintan

Pesta Sastra Akhir Tahun, Banjarbaru dan Bintan

Ada dua festival sastra yang diadakan pada waktu bersamaan pada akhir November hingga awal Desember 2018. Kegiatan pertama diadakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan nama Banjarbaru Rainy Days Literary Festival. Ini festival More »

Festival Sastra Bengkulu dan Gelora Sastra Bumi Raflesia

Festival Sastra Bengkulu dan Gelora Sastra Bumi Raflesia

>Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2018 di Bengkulu 13-15 Juli 2018 telah usai. Acara itu melibatkan sekitar 100 sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia dan negara tetangga. Acara yang didukung penuh sekaligus difasilitasi More »

 

Category Archives: menulis

Menulis itu Semudah Bikin Surat

Pernahkah Anda menulis catatan surat atau harian? Jika iya, anda berbakat menjadi penulis. Sesederhana itu? Iya, memang sederhana. Menulis sebetulnya proses yang biasa saja, yang tidak jauh berbeda dengan berbicara. Bedanya hanya: jika berbicara kita tidak perlu menggunakan bahasa yang baku, bahasa formal. Kita bisa menggunakan bahasa gaul, prokem, dan lain sebagainya. Sedangkan menulis kita diikat oleh penggunaan bahasa yang formal, baku, dan memenuhi kaidah-kaidah tertentu dalam berbahasa, yakni tata bahasa.

Pengadilan Hingga Majalah Bekas | #ProsesKreatifMI 5

Masa-masa itu sangat menggairahkan. Kami berlomba menulis dan mengirim puisi ke berbagai media. Tak hanya di koran Aceh, seperti Serambi Indonesia, Atjeh Post dan Peristiwa, juga di koran-koran Medan seperti Waspada, Analisa, Persada dan lain-lain, hingga koran Jakarta. Bahkan tanpa berifikir honor, yang penting karya dimuat. Kami seperti sibuk mengejar eksistensi — meski tentu saja itu tak salah.

Dikusi Hingga “Berantam” di Koran | #RiwayatKreatifMI 4

Setelah berkali-kali puisi dimuat berbagai media plus berteater, saya pun merasa diri benar-benar “menjadi seniman” dan bergaya nyeniman: rambut gondrong, pakai sandal jepit, kadang jarang mandi – kecuali mau ke kampus. Sesekali saya tidur di Meunasah Tuha Taman Budaya Aceh bersama seniman lain, antara lain Din Saja dan Hasbi Burman.

Puisi Pertama di Koran dan Nama Samaran | #RiwayatKreatifMI 3

Pada 1990, sebuah puisi saya muncul di sebuah media lokal di Banda Aceh, Tanah Kelahiran. Puisi itu telah disunting oleh editor budaya media itu. Mungkin editornya kasihan melihat saya rajin sekali mengirim puisi sehingga memuatnya satu biji. Meski telah “ditukangi”, saya senang bukan main. Saat itu saya menggunakan nama pena Muista Fahendra.

Tamu dari Gontor hingga Gairah yang Berhenti | #RiwayatKreatifMI 2

Suatu kali, rumah karib ayah tempat saya menumpang di Ketapang, Banda Aceh, kedatangan tamu dari sebuah pesantren modern di wilayah kabupatan Pidie. Sang tamu seorang pengajar di pesantren itu. Kami sempat mengobrol ke sana-kemari. Lulusan sebuah pesantren moderen terkenal di Jawa Timur, Gontor, itu bercerita tentang puisi dan suka menulis puisi.

Menyesal Hingga Akuntansi | #RiwayatKreatifMI (1)

SAYA tidak pernah menampik bahwa pada awalnya menulis puisi adalah hobi. Juga tidak perlu sewot kalau ada yang me-ngatakan bahwa menulis puisi kegiatan orang kasmaran. Pun tak usah uring-uringan bila diledek bahwa menulis puisi untuk mendapatkan uang. Faktanya memang demikian. Bahkan sah saja bila ada orang menulis puisi demi mendapatkan ketenaran.

Puisi Odong-odong dan Odong-odong Puisi

Banyak yang “baper” pada status saya tentang Puisi dan Odong-odong di akun Mustafa Ismail. Makanya saya posting ulang status itu di akun saya Mustafa Ismail II ini — siapa tahu berguna. Tapi satu hal ingin saya permaklumkan: status ini saya tulis bukan “sebagai kesombongan atau bentuk keangkuhan”. Tidak sama-sekali. Saya menulis status ini untuk mengajak kita berpikir dan terus belajar. Tidak cepat puas. Tidak cepat merasa besar.

Puisi yang Baik

Saya sering ditanya sejumlah kawan (yang baru menulis puisi) dalam banyak kesempatan: bagaimana puisi yang baik itu? Pertanyaan yang sama ditanyakan teman-teman wartawan yang suka berpuisi di WAG Wartawan Berpuisi dini hari tadi.

Menerbitkan Buku Itu Mudah dan Murah

Kita kadang kerap mendapat pertanyaan dari teman-teman: bagaimana sih menerbitkan buku? Apakah menerbitkan buku itu susah dan mahal? Bagaimana prosesnya? Naskah saya ditolak oleh penerbit besar, apakah buku saya tidak bisa terbit? Ada lagi pertanyaan: nulis buku susah ya? Apa saja sih bahan yang bisa dijadikan buku?

Menulis Bisa Kaya? Siapa Bilang Tidak?

Oleh: Dianing Widya

Mengapa Menulis?

PERNAHKAH Anda memiliki keinginan untuk dikenal orang banyak, memiliki rumah sendiri, memiliki mobil bagus, juga jalan-jalan ke berbagai kota bahkan negara? Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan bekerja keras. Salah satunya dengan menulis. Mengapa? Menulis juga salah satu kegiatan yang menghasilkan uang, dan bisa dijadikan profesi. Artinya menulis bukan lagi sekedar hobi.

Banyak penulis yang kemudian menjadi terkenal dan kemudian kaya raya. Kalau di Indonesia, kita mengenal Habiburrahman El Sirazy, Andrea Hirata, Ayu Utami, dan lain-lain. Di luar negeri, misalnya ada Dan Brown dan JK Rowlling. Sebelum menulis, nama-nama itu bukan siapa-siapa. Mereka bukan orang terkenal.

JK Rowling, misalnya, sebelumnya hidup sangat sederhana. Untuk menghemat listrik di rumahnya, ia memilih menulis di kafe. Tapi, tahukah Anda berapa kekayaan JK Rowling kini? Sungguh fantastis: US $ 1 miliar! Ia menjadi salah satu orang terkaya di Inggris, bahkan di dunia. Asyik kan? Anda mau? Pasti mau dong. Saya juga mau. Kalau mau, mengapa tidak langsung memulai menulis?

Kerja Keras

Tapi, sukses tidak didapatkan secara simsalabim abrakadabra. Semua perlu proses. Semua perlu ketekunan, semangat untuk belajar, semangat untuk maju, tak kenal menyerah, dan terus kerja keras. Sejumlah penulis terkenal dan penulis laris kini tidak mendapatkan kesuksesan itu secara spontan.

Dan Brown telah menulis sejumlah buku, tapi baru buku keempat yakni “The Davinci Code” yang laris. Setelah itu, buku-buku dia sebelumnya juga ikut laris.