Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Category Archives: esai

Membaca Hasyim

OLEH: Mustafa Ismail

Pernahkah Anda ke Meulaboh dalam era 1970-an? “Ada lima raket penyeberangan kalau kalau kita ingin mencapai Meulaboh, dan akan berjumlah delapan rakit kalau terus ke Tapaktuan,” begitu sastrawan Hasyim KS menuliskan gambaran masa lalu daerah pantai barat dalam cerpennya berjudul /Lewat Meulaboh/.

Kantor Tak Selebar Daun Kelor

Ini tulisan lama saya. Artikel ini dimuat di rubrik Periskop Koran Tempo, Jumat 26 MARET 2004. Tulian ini bisa dibaca di link ini — http://koran.tempo.co/konten/2004/03/26/9951/Kantor-Digital — namun sayangnya, Anda harus login dulu untuk bisa masuk ke artikel ini. Maka itu, saya posting kembali tulisan ini agar kita bisa mendiskusikannya: masih perlukah kantor dan kita tiap hari menembus waktu dan kemacetan demi tiba di kantor?

PMTOH

Sesungguhnya ini nama bus. PMTOH adalah bus jurusan Banda Aceh-Medan-Jakarta, hingga Solo, Jawa Tengah. Namun nama itu menjadi nama salah satu jenis kesenian di Aceh, yakni seni tutur atau peugah haba. Tentu saja tidak ujuk-ujuk. Gara-garanya, Tengku Adnan, seorang seniman tutur di Aceh kerap mengutip klakson bus itu dalam pertunjukannya. Jadilah kesenian yang dibawakannya menjadi PMTOH dan nama Tengku Adnan ditambahkan dengan kata PMTOH di belakangnya sehingga menjadi Teungku Adnan PMTOH.

Makmeugang

Mustafa Ismail, pegiat kebudayaan, @musismail | KOLOM INI pernah di muat di Koran Tempo, Kamis, 18 Juni 2015. |

Sebuah foto masakan daging yang begitu menggoda, tiga hari lalu, masuk di Whatsapp saya, dilengkapi pesan dalam bahasa Aceh: “Kak na geutaguen sie ruboh, menyona hawa euntreuk piyoh.” Pesan itu dari seorang warga Aceh di wilayah Tangerang Selatan. Kami menyebutnya Ngoh Min atau Bang Amin –namanya M. Amin — seorang insiyur sekaligus pengusaha bidang perawatan mesin pesawat terbang.

Muge

Mustafa Ismail, pegiat kebudayaan, @musismail | Esai ini pernah dimuat di Koran Tempo, Sabtu, 13 Juni 2015.
|

Setiap ada hiruk-pikuk—terutama hiruk-pikuk politik—saya jadi ingat tepi pantai di kampung saya di Aceh. Tiap pagi, sepulang para nelayan dari melaut, suasana riuh. Keriuhan terjadi antara nelayan dan para muge eungkot, makelar dan pedagang ikan, yang melakukan tawar-menawar ikan. Biasanya mereka berdiri melingkar mengelilingi ikan-ikan yang ditaruh dalam raga alias keranjang.

Klo Prip

Mustafa Ismail, pegiat kebudayaan, @musismail | Tulisan ini dimuat di Koran Tempo, 5 Mei 2015

Di kampung saya, di Aceh, ada sebuah istilah yang sering digunakan untuk menyebut seseorang yang keras kepala, yakni klo prip. Klo dalam bahasa Aceh berarti tuli, sedangkan prip adalah peluit. Tuli peluit. Maksudnya, ditiup peluit sekencang apa pun di telinganya, ia tidak akan mendengar. Sekeras apa pun suara, ia tetap tak merespons.

Kota, Identitas dan Kebudayaan

Tulisan berikut adalah makalah saya dalam Seminar Kebudayaan “Menggagas Tangerang Selatan Sebagai Kota Budaya” di BSD Serpong, Rabu, 22 April 2015. Seminar yang diadakan Kantor Kebudayaan dan Parawisata ini menghadirkan tiga pembicara. Selain saya, ada Chavcai Saifullah dan Samudro. Seminar ini dihadiri oleh para seniman, budayawan, birokrasi, pengusaha, politisi, dan para pengambil keputusan di Banten.

Tentang Jargon, Citra dan Identitas Kota

Tulisan saya ini adalah versi sangat ringkas dari makalah saya untuk seminar kebudayaan “Menggagas Tangerang Selatan Sebagai Kota Budaya” yang diadakan oleh Kantor Kebudayaan dan Parawisata, Tangerang Selatan, di restoran Telaga Seafood BSD, Serpong, Banten, Rabu, 22 April 2015. Selain saya (Mustafa Ismail), pembicara dalam seminar yang dihadiri sekitar 100 orang seniman, budayawan, pegiat seni-budaya, kalangan birokasi, serta masyarakat umum itu adalah Chavcai Saifullah (Ketua Dewan Kesenian Tangerang Selatan) dan Samudro (akademisi).

Kesetiaan dan Kerinduan yang Romantis

CATATAN: Mustafa Ismail | Ini adalah pengantar untuk buku puisi Doel CP Allisah “Nyanyian Miris”. |

kesetiaan adalah,
senyum bocah-bocah
tanpa kebanggaan
kesetiaan adalah,
manusia-manusia lapang dada
solider dan toleransi
kesetiaan adalah,
kamu yang di jiwaku
dan kita saling memberi pengertian%

Seni, Muri, dan Lain-lain

Mustafa Ismail, penggiat seni dan pemerhati manajemen seni

Tidak bisa dipungkiri, masyarakat Aceh tentu berbangga atas penghargaan Museum Rekor Indonesia (Muri) kepada seniman tutur Aceh Muda Belia yang berhasil memecahkan rekor membawa hikayat selama 26 jam beberapa waktu lalu. Apalagi, ini penghargaan pertama yang diraih oleh pelaku seni di Aceh. Penghargaan itu sekaligus penegasan bahwa pelaku seni Aceh mampu menunjukkan diri, tak hanya di Aceh, juga di luar Aceh.
Tapi, tentu pula, masyarakat Aceh, termasuk pelaku seni beserta Dewan Kesenian Aceh dan Dewan Kesenian Banda Aceh yang memfasilitasi pentas tersebut, tidak terlalu lama larut dalam rasa bangga itu. Ini adalah awal untuk mencetak keberhasilan berikutnya. Saatnya kini kembali untuk bekerja untuk menghasilkan karya-karya kreatif (bagi pelaku seni) dan mendukung tersosialisasinya hasil-hasil karya kreatif itu.
Selama ini, kerja kreatif dan promosi hasil kerja kreatif itu tidak berjalan berbarengan dan saling mendukung. Seniman lebih banyak berjalan sendiri. Sementara kerja-kerja promosi nyaris tidak terjadi, termasuk oleh lembaga-lembaga yang diharapkan bisa memikirkan dan mewujudkan hal ini semacam Dewan Kesenian maupun pihak pemerintah. Promosi karya kreatif yang dilakukan masih bersifat sporadis, belum menjadi agenda yang terencana dan terarah.
Pelaku-pelaku seni Aceh, terutama pelaku seni tradisi, baru berkesempatan tampil jika ada acara-acara rutin seperti Pekan Kebudayaan Aceh. Sangat sedikit dari mereka yang bisa menunjukkan kebolehan dalam forum-forum lain, apalagi di luar Aceh. Pentas-pentas seni di luar Aceh, termasuk di luar negeri, kerap diisi oleh sanggar-sanggar tertentu. Karya-karya yang kerap dibawakan ke luar Aceh juga sering yang itu-itu saja.
Padahal, di Aceh begitu banyak karya seni, terbentang dari Sabang sampai Tamiang. Tambah lagi, di Aceh tidak ada lembaga yang memang secara khusus memfokuskan perhatian pada menggali dan mengangkat kembali karya-karya seni tradisi ini. Lembaga-lembaga kesenian yang ada, termasuk bidang-bidang kerja yang menangani seni di instansi pemerintah, belum mampu memberi perhatian yang cukup untuk masalah ini.
Masalah ini sangat urgen. Jika tidak ditangani dengan baik dan lebih dini, karya-karya seni tradisi secara perlahan dan pasti akan hilang percuma. Sebab, pelaku-pelaku seni tradisi yang ada sekarang sebagian sudah tua, bahkan uzur. Sementara penerusnya sangat sedikit. Itu ditambah lagi aprioritas kaum muda, yang lebih bangga mengusung budaya modern — sebagian akibat langsung dari serbuan modernitas. Maka, lengkaplah kesunyian yang dihadapi oleh karya-karya seni tradisi.
Kondisi seperti ini sangat mencemaskan. Masyarakat Aceh masa depan boleh jadi betul-betul akan menghadapi kenyataan pahit: kehilangan identitas keacehannya. Anak-anak Aceh masa depan tidak mengenal seni dan budaya kakek-neneknya. Sebab, seni adalah salah satu identitas lokal, yang harusnya tetap melekat dan terpelihara dengan baik. Salah satu keragaman dan kekayaan unik yang dimiliki sebuah daerah atau teritorial adalah karya seni. Ini menjadi pembeda antara satu daerah dengan daerah lain.
Maka itu, event-event yang mengangkat seni tradisi menjadi sangat penting. Pentas-pentas yang mendorong orang untuk memberi penghargaan tertentu seperti Muri perlu digalakkan. Mungkin ke depan ada lagi yang memfasilitasi pentas didong 100 jam misalnya, pentas rapa’i tujuh hari tujuh malam, atau pentas seni-seni lain yang bisa mencatat rekor tertentu. Ini akan menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan karya seni.
Maka itu, tentulah yang mesti diangkat untuk mencapai rekor-rekor semacam ini adalah karya-karya seni yang belum dikenal secara luas di luar Aceh, bukan jenis seni yang sudah dikenal atau yang sudah sering ditampilkan. Oleh karena itu, seharusnya memang ada sebuah tim khusus yang dibentuk untuk keperluan ini. Mereka bertugas menginventarisir, menggali, dan kemudian mempromosikan karya-karya seni tradisi itu dengan berbagai cara, termasuk mengikutkan dalam diskusi, pameran, pentas eksebisi, ajang lomba, penghargaan, termasuk semacam Muri.
Memang, penghargaan seperti Muri tidak berorientasi pada kualitas. Tapi lebih pada semangat sekaligus daya tahan seseorang untuk terus melakukan kerja tertentu dalam waktu tertentu secara terus-menerus. Termasuk dalam hal ini kerja kreatif. Dengan kata lain, Muri sebetulnya lebih berorientasi pada kuantitas, pada angka-angka, bukan pada isi dan substansi. Untuk pengembangan dan peningkatan kualitas berkesenian rekor semacam ini memang tidak berperan besar. Tapi untuk kebutuhan promosi seni, rekor semacam ini sangat penting.
Tentu saja, promosi juga perlu diimbangi dengan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas. Memperbanyak workshop, pelatihan, pentas-pentas dan lomba-lomba, adalah penting untuk mendukung pengembangan kualitas ini. Termasuk, memberi beasiswa kepada para seniman untuk belajar di lembaga-lembaga pendidikan seni penting sesuai bidangnya, dan juga mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh.
Beasiswa seni, bukan hanya akan membuat seniman itu tambah profesional, juga akan membentangkan jaringan seni yang lebih luas dengan dunia luar. Jadi, dengan begitu, paling tidak, ada dua hal yang bisa terengkuh sekaligus sekali mendayung perahu: meningkatkan kapasitas, kualitas, dan profesionalitas seniman, sekaligus ikut membuka jalan untuk mempromosikan seni yang ditekuninya.
Misalnya, seorang seniman diberi beasiswa untuk belajar sastra di Australia, secara otomatis dan alamiah ia akan ikut memperkenalkan seni Aceh, termasuk bidang yang digelutinya, kepada publik di sana. Begitu pula jika seniman-seniman lain dikirim belajar ke berbagai belahan dunia, ia akan secara alamiah memperkenalkan dan mempromosikan seni Aceh, termasuk bidang yang ditekuninya, ke tempat ia belajar itu.
Ini promosi yang relatif murah, karena dilakukan terus menerus selama masa ia belajar. Ini akan lebih efektif dibandingkan dengan pentas-pentas eksebisi, yang biasanya paling lama pentasnya dua-tiga hari. Persentuhannya dengan banyak orang, termasuk pelaku-pelaku, profesional dan akademikus seni di tempatnya belajar juga akan memberi nilai tambah untuk promosi ini. Dan, pada akhir tugas belajarnya, ia akan menulis atau mementaskan karya akhir tentang seni yang digelutinya.
Sementara dengan mempercepat pembentukan perguruan tinggi kesenian di Aceh akan membuat seni-seni tradiri khas Aceh bisa dipelajari secara lebih luas dan massal, tidak hanya oleh anak-anak Aceh, juga oleh orang dari luar Aceh. Terpenting dicatat, di perguruan tinggi seni itu ada jurusan seni tradisi Aceh, selain seni-seni moderen. Kalau di Universitas Indonesia ada jurusan Sastra Jawa, di perguruan tinggi seni di Aceh tentu harus ada Sastra Aceh dan Seni Aceh.
Dengan demikian, orang-orang yang berminat untuk belajar sastra Aceh atau seni Aceh bisa datang ke perguruan tinggi itu. Merujuk dari pengalaman UI mengelola Jurusan sastra Jawa, yang belajar di sana tidak hanya orang Jawa, juga mahasiswa non Jawa. Jadi, bukan mustahil kalau orang dari berbagai belahan dunia bakal tertarik belajar seni atau sastra Aceh. Apalagi, nama Aceh kini telah mendunia, yang tentu saja membuat orang penasaran untuk mengetahuinya lebih lanjut, termasuk mempelajari budayanya.
Jadi, pengembangan seni/kebudayaan Aceh, memang perlu dilakukan dengan berbagai cara dan lini. Terpenting, sekali lagi, bagaimana mengintegrasikan semua itu dalam sebuah konsep yang jelas dan terarah, dengan rencana kerja yang rill dan terukur, dengan dukungan dan peran penuh dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. ***

Depok, 4 Februari 2010