Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Category Archives: Opini

Kantor Tak Selebar Daun Kelor

Ini tulisan lama saya. Artikel ini dimuat di rubrik Periskop Koran Tempo, Jumat 26 MARET 2004. Tulian ini bisa dibaca di link ini — http://koran.tempo.co/konten/2004/03/26/9951/Kantor-Digital — namun sayangnya, Anda harus login dulu untuk bisa masuk ke artikel ini. Maka itu, saya posting kembali tulisan ini agar kita bisa mendiskusikannya: masih perlukah kantor dan kita tiap hari menembus waktu dan kemacetan demi tiba di kantor?

Uber, Grab, Ojek versus Kendaraan Pribadi

Angkutan umum di kota-kota besar kini makin memudahkan. Di Jakarta, misalnya. Pilihan orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain makin beragam, dan nyaman, tentu. Mulai dari kereta commuterline, bus transjakarta alias busway, kopaja dan metromini ber-ac, hingga “taksi” aplikasi dengan harga jauh di bawah taksi konvensional hleingga ojek berbasis aplikasi yang argonya tidak main tembak.

Di jajaran taksi aplikasi, misalnya, antara lain ada Uber dan grabcar. Untuk ojek online lebih ramai: selain ada gojek yang lebih dulu hadir, juga ada grabbike, Taksi Jeger, Bluejek. Uber pun kemudian meluncurkan Uber Motor. Terbabu, kini adalah Adajek yang diluncurkan awal Juni. Adajek tak hanya menyasar pengguna telepon genggam. Siapun bisa menyetop mereka di jalanan, tidak harus pesan lewat aplikasi.

Nah, dengan segala kemudahan itu, masihkan kita membutuhkan kendaran pribadi? Mari kita berhitung. Seorang pengguna mobil yang tinggal di daerah Serpong atau Pamulang dan bekerja di kawasan Sudiman, Jakarta, rata-rata membutuhkan Rp 150.000 setiap hari untuk bensin mobil, tol dan parkir. Jika dikalikan 25 hari kerja maka ia membutuhkan biaya tranport sekitar Rp 3.750.000 sebulan.

Bagaimana jika ia naik kereta commuter line? Mari kita hitung. Ongkos ojek dari rumahnya ke stasion kereta dengan jarak 10 kilometer sekitar Rp 15.000 (pakai ojek aplikasi) dan bolak-balik artinya Rp. 30.000. Lalu, naik kereta Commuterline dari Serpong ke Tanah Abang (Rp 2000) dan Tanah Abang ke Sudirman (Rp.2000) sehingga semuaya Rp. 4.000 x 2 (PP) = 8.000. Jadi uang transpor yang dikeluarkan sekiar 38.000.

Pilih mana? Saya pribadi sejak beberapa tahun terakhir sudah memarkir mobil dengan manis di rumah dan hanya dipakai sesekali saja. Ada beberapa keuntungan yang saya dapat dengan “mengkarantina” mobil di rumah. Pertama, saya tidak kelelahan menyetir. Tinggal duduk. Bahkan, kalau lagi ngantuk, bisa memejam mata di dalam kereta. Kedua, lebih cepat tiba karena kereta anti macet. Ketika, tentu saja hemat biaya.

Bahkan, saya berpikir, sebetulnya kita sudah tidak perlu punya mobil. Mengapa? Dari pada memelihara mobil, mendingan kita menyewanya saja atau naik taksi aplikasi. Jauh lebih hemat. Barangkali tidak ada salahnya kita membandingkan: mana lebih hemat memelihara kambing dibandingkan dengan membeli sate? Jelas, lebih hemat membeli sate. Tinggal datang, duduk, pesan, makan, bayar, pulang. Tak perlu melakukan menyediakan kandang, membeli umpan, mengongkosi dokter, hingga membayar orang untuk menjaganya (asuransi, dll).

Rata-rata biayar perawatan plus pajak mobil setahun lebih dari Rp 5 juta. Padahal hanya kita pakai seminggu sekali. Itu belum lagi uang muka pembelian, cicilan + bunga, hingga bensin, tol, parkir. Mungkin sebagian orang berpikir membeli mobil sekalian menabung. Tentu saja itu keliru. Pertama, mobil adalah barang yang penyusutannya sanga tinggi, 10-20 persen pertahun. Mobil yang Anda beli sekarang Rp 200 juta boleh jadi lima tahun lagi hanya laku dijual sekitar Rp 100 juta. Jadi kelau menabung lebih baik beli emas atau tanah atau properti.

Mie Aceh Versus Mi Aceh

Di Jakarta, beberapa tahun belakangan ini, kita begitu mudah menemukan warung Aceh. Selain kopi, salah satu yang menjadi andalan adalah mi == dan kerap ditulis dengan Mie Aceh. Nah, mi atau mie Aceh itu hindangan istimewa. Bumbunya saja mencapai 20-an jenis rempah. Sudah pasti rasanya menggoda.

WhatsApp, Telegram, Line, BBM versus SMS

Benarkah SMS telah bangkrut setelah populernya aplikasi chat seperti Whatsapp, Line, Telegram, BBM, dan lain-lain? Ternyata tidak. Kita — saya terutama — masih kerap menerima SMS. Tidak hanya dari teman dan rekan kerja, juga dari penipu.

Mengirim Artikel Opini untuk Kompas

Beberapa hari lalu, seorang penulis novel, yang kadang suka menulis esai di sejumlah media, kembali mendapat “surat cinta” dari Harian Kompas. Isinya apalagi kalau bukan pengembalian artikel yang dikirimkan sepekan sebelumnya. Kala itu, ia menulis penolakan angkutan online oleh taksi konvensional.

Mengubah Status Facebook Jadi Duit

Dalam pertemuan #ngopiblogger di Pamulang kemarin, Sabtu, 2 April 2016, ada beberapa hal yang saya sampaikan. Itu agar status facebook atau kultwit kita di Twitter, entah itu puisi, cerpen, esai, informasi acara/kegiatan, atau tulisan yang merespon persoalan hangat dalam masyarakat, atau sekedar uneg-uneg, tidak tenggelam begitu saja dan sulit dicari orang di google.

Sehari Menulis 15 Puisi?

Sudah lama saya tidak bertemu Apa Maun. Malam ini saya kaget, tiba-tiba satu gerbong dengan saya di kereta Commuterline jurusan Tanah Abang (Jakarta) – Serpong (Tangerang Selatan). “Ho trep that hana deuh keuh Nyak Muih,” tanya Apa Maun. Maksudnya, kemana saja selama ini kok lama sekali tidak bertemu. “Peue sibok that?” Tanyanya lagi. Apakah sibuk sekali?

Taksi Online versus Taksi Konvensional, Kok Ribut?

Perubahan adalah Keniscayaan.

Masih ingat pager? Itu lho, alat yang bisa menerima pesan namun si pengirim pesan harus menelpon operator untuk menitip pesan itu. Alat itu sangat populer di awal-awal hingga akhir 1990-an. Ketika saya mulai menjadi jurnalis di Jakarta pada 1997, pager adalah andalan utama untuk menerima pesan dari kantor ke mana kami harus bergerak meliput. Kala itu, kemudian, saya tidak hanya punya pager, juga punya sebuah perangkat telepon genggam yang hanya bisa menghubungi, tapi tak bisa menghubungi. Namanya Telepoin.

PMTOH

Sesungguhnya ini nama bus. PMTOH adalah bus jurusan Banda Aceh-Medan-Jakarta, hingga Solo, Jawa Tengah. Namun nama itu menjadi nama salah satu jenis kesenian di Aceh, yakni seni tutur atau peugah haba. Tentu saja tidak ujuk-ujuk. Gara-garanya, Tengku Adnan, seorang seniman tutur di Aceh kerap mengutip klakson bus itu dalam pertunjukannya. Jadilah kesenian yang dibawakannya menjadi PMTOH dan nama Tengku Adnan ditambahkan dengan kata PMTOH di belakangnya sehingga menjadi Teungku Adnan PMTOH.

Perangkap Marketing di Media Sosial

Terkadang kita terkecoh dengan status-status atau posting kontroversial media sosial. Kita lupa: dengan ikut “meramaikannya” — entah mengecam, meledek, bahkan membully — sesungguhnya kita telah masuk dalam perangkap marketing. Tanpa sadar kita telah membuat nama yang kita kecam itu menjadi terkenal.