Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Bertajuk “Dongeng Tentang Kita”, Malam Sastra Margonda (MSM) yang diadakan oleh Komunitas Sastra Margonda untuk memperingati Hari Dongeng Sedunia yang jatuh pada 20 Maret 2020. Malam Sastra Margoda diadakan di Miebiee Pasta, More »

Merayakan Dongeng

Merayakan Dongeng

Merayakan Hari Dongeng Sedunia Ayo kita bertemu dan ngopi di #malamsastramargonda Sabtu, 14 Maret 2010 Pukul 19.00-22.30 di @miebiipasta_ Jalan Merpati 6 No 237 Pancoran Mas Depok More »

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda digagas oleh Mustafa Ismail, Tora Kundera dan Willy Ana. Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi para pecinta seni dan sastra di Depok, terutama anak muda, untuk berekspresi sekaligus mengapresiasi More »

Merayakan Hujan dan Puisi

Merayakan Hujan dan Puisi

Hujan dan Puisi seperti Sapardi dan Bulan Juni. Mereka mengajak kita dalam bait-bait yang membungahkan hati. Nah, menyambut Februri, kita merayakan hujan dan puisi, sambil membaca puisi-puisi cinta karya sendiri, karya siapa More »

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di More »

 

Jakarta Butuh Banyak Lebaran

>Seandainya Lebaran bisa dipesan, saya akan pesan tiap bulan. Kenapa? Ah, baca saja tulisan ini.

Senin kemarin (11 Juni 2018), saya meluncur dari rumah di kawasan Bojongsari, Depok, menuju ke Kantor Unit Khusus Layanan Paspor Imigrasi Jakarta Selatan di Jalan Ciputat Raya, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Saya menunggang “kambing” merah yang bisa saya pakai ke stasiun kereta. Tadinya saya sempat berpikir untuk menunggang “sapi”, tapi tidak jadi karena takut didera kemacetan. Soalnya saya buru-buru. Meskipun bila membawa “sapi” saya bisa melepas lelah dan tidur beberapa saat sambil menunggu antrian di Kantor Imigrasi. Maklum, saya belum cukup tidur karena baru tidur selepas subuh dan bangun sekitar pukul sepuluh kurang sedikit.

Tadinya saya berencana ke kantor Imigrasi pukul tujuh pagi. Tapi saya bukan orang yang cukup tidur satu jam. Maka itu saya baru berangkat dari rumah pukul 10 lewat sekian. Sekitar 40 menit kemudian saya tiba di tempat yang saya tuju. Tapi anehnya, kantornya kok sepi sekali. Hanya tempak beberapa petugas sekuriti di bagian dalam dekat pintu masuk. Sementara pintu pagar masuk ke kantor itu dikunci. Wah berabe nih — rencana saya memperpanjang paspor terancam gagal.

Sebelum saya teruskan, saya ingin cerita dulu soal prosedur pengurusan paspor sekarang. Sesuai aturan Imigrasi, untuk mengurus paspor (bikin baru atau memperpanjang) harus mendaftar dulu secara online di website imigrasi atau di aplikasi pengurusan paspor di Android dan Apple. Setelah mendaftar dan verifikasi email, kita memilih kantor Imigrasi terdekat dengan kita atau kantor Imigrasi yang kita tuju. Selanjutnya kita memilih tanggal yang tersedia untuk datang ke kantor Imigrasi. Jika sudah ketemu tanggal kita pilih mau datang pagi atau siang. Setelah memilih kita akan mendapatkan nomor antri dan barkode berikut tanggal dan jam kita antrian kita.

Nah, saya pun sudah melakukan prosedur itu. Untuk bulan Juni 2018, tanggal paling cepat yang tersedia adalah 17 Juni di Kantor Imigrasi Depok. Saya kebagian datang pukul 9.00-10.00. Masalahnya, saya butuh paspor lebih cepat dari itu. Saya lalu lihat kantor Imigrasi lain. Unit Layanan Paspor Imigrasi itu tak ada satu pun tanggal yang bisa dipilih. Nah saya pikir — jangan-jangan sistem eror. Masa tidak ada satu pun tanggal bisa dipilih. Saya sempat menelpon ke sana namun tidak ada yang angkat. Maka saya putuskan saja untuk datang langsung.

Tapi celakanya malah sepi dan gerbang kantor itu ditutup. Dari jauh petugas sekuriti memberi isyarat bahwa kantor tutup. Itu saya terka dari gerak mulutnya yang mengatakan tutup. Tentu saja tidak menyerah. Saya terpikir untuk ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan di Jalan Buncit Raya, Mampang. Saya membantin: di sana pasti buka. Lalu, saya pun bergegas meluncur mencari jalan-jalan alternatif yang cepat sampai dengan melintasi jalan pemukiman bahkan gang sempit. Sekita pukul 11.30 saya pun tiba di sana. Tapi, alamak, suasana juga sangat sepi. Tidak ada keramaian orang-orang dan parkir kendaraan.

Saya masuk dan menambatkan “kambing” di tempatnya — dan ia sepi sendiri, tak ada kambing lain. Saya sempat berpikir: mungkin orang-orang sudah pulang kampung sehingga tidak banyak yang mengurus paspor. Di teras dan lobi kantor itu hanya ada beberapa orang, sebagian lagi duduk dan ada pula yang sedang ngobrol dengan petugas sekuriti. Mungkin sedang bertanya sesuatu dan sekuriti berusaha menjelaskan. Setelah menambatkan kambing, saya pun mendekati sekuriti dan menyampaikan maksud kedatangan. Saya katakan sudah mengambil nomor antri di Imigrasi Depok namun dapatnya lama, tanggal 27 Juni. Saya tanya apakah masih bisa antri secara manual selain mengambil jadwal antri online. “Tidak bisa pak. Semua online,” katanya.

“Bapak lumayan dapat tanggal 27 Juli. Di sini (Kantor Imigrasi Jakarta Selatan) dapatnya tanggal 28 Juni,” ujarnya lagi. Hari ini tutup? “Ya Pak, mulai hari ini sudah libur.” Ia menjelaskan semua kantor pemerintah sudah libur dan masuk lagi habis Idul Fitri. Duk. Seperti mendengar pukulan tambo di Aceh yang menjalar ke jantung saya. Pantesan sepi. Gagallah saya memperpanjang paspor lebih cepat. Saya pun meninggalkan dengan sedikit lemas. Di jalan saya baru sadar bahwa yang diucapkan petugas sekuriti tadi terbukti. Tak hanya kantor-kantor pemerintah yang sepi, jalan-jalan utama Jakarta pun lengang. Saya bergerak di Jalan Warung Buncit, terur ke Jalan Gatot Subroto — suasana jalanan mirip di sebuah kota mati. Hanya beberapa kendaraan yang lewat. Ini kontras sekali dengan keseharian Jakarta.

Saya langsung menduga bahwa sebagian besar penghuni Jakarta atau yang tiap hari beraktivitas di Jakarta sudah libur, sebagian lagi pulang ke kampungnya masing-masing untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Mungkin hanya sejumlah karyawan swasta yang masih bekerja — tentu saja termasuk instansi layanan publik seperti rumah sakit. Lainnya sedang bersenang-senang dan berbagia dengan keluarga, teman dan/atau pasangan masing-masing. Betapa indahnya Hari Raya Idul Fitri, tak hanya membuat orang bisa bersilaturahmi, bermaaf-maafan dan membersihkan kerak dosa dengan sesama, juga sekaligus menghadirkan rahmat lain yang tak kalah penting: membuat Jakarta tak macet lagi. Jalanan Jakarta jadi ramah dan menyenangkan. Tak ada bunyi klakson, macet berdesakan di jalan, hingga bising suara kendaraan.

Seandainya Lebaran bisa dipesan, saya ingin pesan agar Idul Fitri bisa “dijadwalkan” tiap bulan saja. Dengan begitulah kita akan merasakan kenikmatan berada di Jakarta — ketika penghuninya mudik ke kampung halaman.

BATANG, Jawa Tengah,
12 Juni 2018
MUSTAFA ISMAIL
musismail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *