Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Matematika Mudik atawa Mudik Lewat WA

Mudik itu asyik. Tapi yang bikin asyik adalah biaya mudik. Terutama bagi pemudik yang kampungnya mengharuskannya pakai kapal atau pesawat terbang. Tapi ada pilihan mudik paling murak. Apa itu?

Di kepala Widi, seorang ibu rumah tangga, mendengar kata mudik segera terbayang tumpukan duit. Kampungnya di sebuah kota di Jawa Tengah. Sementara kampung suaminya di sebuah kota di ujung barat Sumatera. Pilih mana?

Widi pun berhitung. Pertama, pilihannya adalah pulang ke kampung suami. Untuk hari-hari normal, harga tiket ke sana rata-rata Rp 1 juta satu orang, namun pada musim mudik bisa Rp 2,5 juta sekali jalan alias Rp 5 juta per orang pergi-pulang. Kalau anggota rombongan ada enem orang, berarti biaya tiket Rp 30 juta.
Itu belum termasuk ongkos taksi dari kota provinsi ke kampung suaminya yang berjarak sekitar 150 kilometer. Belum pula oleh-oleh. Juga belum, ya, sedikit uang kecil untuk anak-anak kecil, ya tetangga, saudara, keponakan, dan lain-lain. Jadi, jika dihitung-hitung Rp 40 juta lenyap. Wow!

Ia lalu mengkalkulasi bila mudik ke kampungnya di Jawa. Ya, pasti lebih murah. Tapi, itu dia, untuk mendapatkan tiket (entah itu tiket bus, kereta api, atau pesawat) perlu perjuangan ekstra. Mau pakai sepeda motor? Wah, mana bisa. Anaknya empat. Mau duduk di mana? Pakai mobil pribadi? Nah, ini lebih praktis. Tapi perlu dana lebih, tentu. Mula-mula untuk persiapan mobil agar mudik aman dan nyaman. Semua harus dicek. Kalau ada ban yang botak mesti diganti. Satu ban, yang tergolong murah, harganya Rp 600 ribu. Bayangkan kalau keempat bannya botak semua ya Rp 1,8 juta. Mesin, AC, roda, hingga rem mesti dicek. Jika tidak ada komponen yang perlu diganti, cukuplah sedia uang Rp 1 juta sampai 1,5 juta untuk service mobil agar mudik nyaman dan aman. Kalau perlu ganti, ya, pasti lebih. Jika banyak komponen mobil harus diganti ya siapkanlah sedikitnya Rp 5 juta.

Selesai? Belum. Masih perlu bensin, tol, makan di jalan, oleh-oleh, sangu buat saudara, keponakan, dan sebagainya. Paling tidak, untuk hal-hal kecil dan oleh-oleh mesti disiapkan minimal Rp 5 juta. Ini nilai minimal. Jadi, jika dihitung-hitung, untuk mudik ke tempat yang selemparan batu dari Jakarta itu saja, dengan segala tetek-bengeknya, bisa menghabiskan sekitar Rp 15 juta. “Ini tekor besar. THR kan jauh di bawah itu,” katanya sengit.

“Bukankah itu tumpukan duit,” ujar Widi lagi. “Atap kita bocor. Mendingan THR buat benerin atap. Anak kita masih kekurangan kamar, mendingan sisa THR ditabung buat bikin kamar. Kalau cuma bermaaf-maafan lewat telepon tidak ada salahnya. Orang di kampung pasti mengerti kita bukan orang kaya. Masa mereka tega habis Lebaran kita harus nyicil utang?”

Suaminya hanya diam, sementara Widi terus berbicara. “Kalau ingin pulang lain kali saja, pas tidak macet, tidak usah berdesak-desakan, tidak bikin capek di jalan, dan kalau naik angkutan umum ongkosnya pakai harga normal. Kecuali memang kita kelebihan uang. Sekarang kita mudik pakai telepon dan grup WA saja. Atau mudik pakai pesawat televisi, murah-mwriah.” ***

MUSTAFA ISMAIL
musismail.com
@musismail.com

>Tulisan ini aslinya pernah dimuat di Koran Tempo edisi 27 September 2008 dalam judul “Mudik?”. Versi yang saya posting di blog ini telah mengalami sejumlah revisi lagi di sana sini, termasuk menyesuaikan angka-angkanya dengan kondisi terkini. [MI]

#mudik #lebaran #idulfitri #idulfitri2018 #mudiklebaran #matematikamudik #bukanpuisi

===================

Ilustrasi utama: Rider Galau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *