Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Media Sosial

Mustafa Ismail, @musismail | 
Sumber: Koran Tempo, Sabtu, 7 Desember 2013.

Beberapa hari lalu, saya terpaksa “memecat” seorang teman di jejaring sosial Facebook. Sebab, dalam sepekan ini, ia kerap menulis status yang narsisistik sambil menghina-hina orang lain. Ada lagi beberapa kawan di Facebook yang bakal saya remove. Sebab, statusnya sungguh tidak asyik untuk dibaca: mencela-cela orang dan pihak lain, terlepas dari seberapa buruknya orang yang dicela itu.  Ia memang tidak menyebut (mention) nama saya. Namun status dia bersliweran di halaman muka Facebook saya.

Saking jengkelnya pada status begituan, saya sampai menulis status peringatan bakal menghapus kawan yang menulis status tak patut dan tak asyik dilihat.  Sebab, bermedia sosial ada tata krama dan etikanya. Orang bebas menulis apa saja, tapi jangan sampai mengganggu orang lain. Orang bebas menghidupkan musik atau bertengkar di halamannya sendiri, tapi jangan sampai mengganggu tidur tetangga.

Jika sampai mengganggu kenyamanan orang lain, sama artinya Anda telah menebar teror dan bullying. Dalam dunia psikologi, dikenal beberapa bentuk kekerasan, seperti kekerasan langsung, kekerasan tak langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan kultural. Nah, kekerasan tanpa mention di media sosial bisa digolongkan sebagai kekerasan tak langsung.

Peneror tidak langsung meneror seseorang, tapi secara tak langsung orang lain ikut terteror karena merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu bisa disebabkan oleh “status” di media sosial yang tidak sesuai dengan nilai moral, gagasan, ataupun ideologi orang yang merasa terteror itu. Bisa pula apa yang ditulis dan di-posting di media sosial tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Contohnya posting-posting akun anonim atau pseudonim di Twitter dan blog yang menjelek-jelekkan orang atau pihak lain.  Mereka begitu lihai mengurutkan peristiwa dan fakta seolah apa yang mereka sampaikan itu benar. Celakanya, sebagian orang sangat mudah percaya.

Media sosial memang telah membuka spektrum komunikasi yang begitu luas, cepat, dan masif. Dari yang tadinya cuma untuk bersosialisasi (mencari teman dan haha-hihi) kini menjadi ruang untuk berbagi (informasi, pengalaman, gagasan, foto, video, dan seterusnya) hingga menjadi tempat untuk berpromosi serta menyebarkan ideologi. Bahkan, ia menjadi mesin yang mampu menggerakkan penggunanya untuk melakukan  sesuatu.

Namun, persoalannya, sebagian pengguna masih gagap dalam memperlakukan media sosial. Perilaku mereka di dunia nyata—kasar, suka memaki, seronok, bahkan tak senonoh—ikut terbawa-bawa ke media sosial. Mereka lupa bahwa ini dunia yang berbeda: tempat mereka tidak sekadar berteman, tapi “mengiklankan diri” kepada orang lain. Ini adalah tempat bagi seseorang untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan, bukan keburukan.

Menulis status tidak penting, semisal menjelek-jelekkan dan memaki orang serta mengumbar narsisisme, justru menurunkan nilai orang tersebut. Sebab, media sosial bukanlah buku harian tempat seseorang menulis perasaan sentimentil, bahkan sumpah serapah kepada orang lain. Ini ruang publik yang bisa membuat orang lain tersakiti dan dipermalukan.

Tapi, kini, apa boleh buat, untuk sementara kita terpaksa menerima media sosial sebagai ruang yang terkadang asyik, tapi pada saat lain begitu menjengkelkan. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *