Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

Wajah Baru, Blog Lama: Merawat Semangat Menulis

>>>Sukses sebagai bloger itu tidak ditentukan oleh platform apa yang digunakan, tapi kualitas konten, konsistensi dan promosi. Makin populer sebuah blog, makin banyak iklan dan tawaran berdatangan. Tak terasa blog saya, musismail.com, More »

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Ajakan Bikin Puisi tentang Pahlawan

Saya punya ide bikin kumpulan puisi tentang pahlawan. Pahlawan dalam arti sangat luas, bukan hanya tentang mereka yang berperang. Sebab pahlawan bisa siapa saja. Bisa ibu kita. Ayah kita. Guru. Tukang sapu More »

Puisi Perahu

Puisi Perahu

KLIPING | SUMBER: Koran Tempo, 11 Agustus 2009. Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe More »

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo Makassar Pamit dan Beralih ke Digital

Koran Tempo edisi Makassar atau dikenal dengan Koran Tempo Makassar (KTM) tidak lagi terbit dalam versi cetak. “Mulai edisi 2 Mei 2016 kami hanya menerbitkan koran digital. Inilah edisi penghabisan di platform More »

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

Mustafa Ismail: Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya

SUMBER: ACEHTREND.CO, 8 DESEMBER 2015. ACEHTREND.CO, Aceh — Target Kongres Peradaban Aceh (KPA) adalah agar anak-anak muda Aceh kembali bangga dengan bahasa-bahasa yang ada di Aceh. “Kita tidak boleh malu dengan bahasa More »

 

Meluruskan Kesalahpahaman Sastra

>Ini tulisan lama yang pernah dimuat di Serambi Indonesia pada 2007. Saya posting di blog karena, selain sebagai dokumentasi, juga masih kontekstual untuk dibaca.

Oleh Mustafa Ismail

Saya agak tergelitik membaca tulisan Herman RN (Serambi Indonesia, 14/1/2007) berjudul “Mencerdasi Kegamangan Mustafa Ismail”. Benarkah saya gamang? Rasanya, tidak. Tulisan saya, “Menggali Potensi Sastra Kita” (Serambi Indonesia, Minggu 7/1/2007), adalah catatan hasil amatan saya terhadap geliat sastra di Aceh pada 2006.

Dari amatan itu, saya menemukan fakta-fakta seperti saya ungkapkan dalam tulisan itu. Pertama, sangat sedikit sastrawan Aceh yang mempublikasikan karya-karyanya di koran nasional pada rentang tahun itu. (Dan, tolong jangan masukkan nama saya dalam konteks ini, meskipun dalam tahun itu banyak puisi dan cerpen saya muncul di Kompas, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain).

Dalam tulisan itu, saya juga menyebutkan, sebetulnya potensi sastra di Aceh banyak. Saya mencontohkan animo peserta pelatihan sastra yang diadakan AMUK Community (kini karya-karya peserta pelatihan itu sedang saya “rapikan” bersama Ahmadun Yosi Herfanda untuk dibukukan), antusiasme siswa terhadap program Sastrawan Masuk Sekolah yang dilakukan Lapena, juga membludaknya peserta lomba menulis yang diadakan Komunitas Tikar Pandan (Do Karim). Semua itu, tentulah potensi sastra.

Lalu, Tabrani Yunis, seorang pengamat pendidikan yang juga penggiat LSM di Aceh, mengirim email dan SMS: apakah kaum perempuan yang sedang dibina oleh lembaganya termasuk potensi sastra Aceh? Saya jawab: iya. Itu semua potensi sastra. Mereka mesti terus didorong untuk menulis dan mempublikasikan karya-karyanya ke publik lebih luas.

Sayangnya, seperti juga saya ungkapkan dalam tulisan itu, tak banyak lagi koran di Aceh yang memiliki rubrik budaya, termasuk Serambi, sehingga tempat mereka mempublikasi karya jadi sempit. Sebab, saya sadar benar, buat para pemula sangat susah menembus koran nasional. Mereka mestilah dulu berproses di daerah, seperti pula saya dan teman-teman lain dulu, mematangkan diri di Aceh, sambil terus menembus koran nasional.

Apakah potensi itu bisa dikatakan sebagai sastrawan? Tentu tidak semudah itu. Tanpa berproses dengan baik, ketekunan dan keseriusan menulis, belajar dan terus berlatih, mereka hanya akan menjadi calon-calon sastrawan. Lalu, saya ingin bertanya, nama baru yang muncul di koran nasional seperti disebutkan Herman? Ia tidak menunjukkan fakta itu. Ia hanya menyorongkan nama Alimuddin, yang memang telah saya ketahui.

Banyak pengamat memang memang memakai kaca mata koran, seperti disebutkan Herman, sebagai salah satu referensi untuk melihat geliat sastra. Sebab, bagaimana pun saat ini koranlah salah satu ruang publikasi karya sastra. Lebih khusus lagi, koran nasional, di mana sistem seleksi karya sastra sudah berjalan sangat baik dengan standar yang, setidaknya, diakui oleh banyak pengamat dan sastrawan. Buat saya tidak penting jika misalnya nanti Herman tidak mengakui standar kualitas koran-koran nasional itu.

Bagi penulis, termasuk penulisa sastra, seperti juga saya katakan dalam tulisan terdahulu, koran adalah tempat kompetisi paling riil. Karya seorang penulis sastra akan bersaing dengan puluhan bahkan ratusan karya lain untuk dapat tampil di halaman koran. Hanya mereka yang punya nyali pantang menyerah, dengan semangat belajar tak henti, yang akan terus berusaha menembus kompetisi koran.

Tapi, bukan koran satu-satunya rujukan yang saya pakai. Di samping itu ada buku, meskipun sistem seleksi karya-karya yang masuk buku kadang tidak memenuhi standar tertentu. Saya sendiri mengalami itu ketika menjadi editor beberapa buku sastra, sering saya harus kompromi dengan diri saya sendiri untuk meloloskan karya yang kurang memenuhi kriteria, dengan berbagai macam pertimbangan.

Di koran nasional, kompromi semacam itu nyaris tidak berlaku. Bahkan, ada koran nasional, yang menetapkan cara seleksi dengan sistem penjurian. Karya-karya yang masuk dinilai oleh beberapa orang sekaligus, lalu masing-masing mereka memilih karya paling layak untuk dimuat, selanjutkan didebatkan kelayakan karya itu bersama-sama.

Saya memang menemukan buku-buku fiksi pop sejumlah penulis muda dari Aceh di toko-toko buku di Jakarta, tapi dalam konteks ini kita tidak sedang membicarakan karya-karya pop. Sebab, karya-karya itu segmentasinya sangat terbatas yakni remaja. Sementara yang kita bicarakan di sini adalah karya-karya sastra yang segmentasinya luas.

Mendukung
Sebetulnya, dalam isi tulisan Herman itu tidak ada hal yang baru. Sebagian isi tulisan itu mengulang lagi apa yang pernah saya sampaikan dalam tulisan saya “Menggali Potensi Sastra Kita” itu, juga dari surat pembaca yang pernah saya kirimkan ke Serambi untuk menggugah koran ini menghidupkan kembali ruang budaya.

Bahkan, jika dilihat secara jernih, tanpa meledak-ledak seperti halnya Herman, sebagian besar isi tulisan Herman mendukung tulisan saya. Misalnya, soal tak ada ruang budaya itu, soal kegemaran menulis anak muda di Aceh (dalam tulisan saya, saya menyebutnya sebagai potensi sastra), sulitnya menembus koran nasional, dan seterusnya.

Namun, ada hal yang mestinya lebih dijelaskan dari tulisan Herman ini: “Kita tahu tidak sembarang orang dapat dimuat langsung karyanya di koran. Redaktur pasti ingin mengenal dahulu siapa penulisnya. Andai penulis itu sudah duluan terkenal, pasti langsung dimuat.”

Saya tidak tahu, apakah yang dimuksud bahwa redaktur sastra mesti kenal dulu secara pribadi dengan penulisnya. Jika itu yang dimaksud, asumsi Herman keliru. Memang, kenal secara pribadi, pernah ketemu dan sebagainya, itu penting. Tapi itu bukan jaminan sebuah karya akan dimuat. Orientasi utama para redaktur, termasuk redaktur sastra, adalah kualitas tulisan. Meskipun memang, nama besar juga jadi pertimbangan.

Seorang penulis pemula bisa saja langsung dimuat di koran, bila memang karyanya layak dan pantas untuk dimuat, dalam arti kualitasnya bagus. Tapi sebelum itu, biasanya redaktur itu akan memverifikasi kepada penulis bersangkutan apakah benar itu karyanya, bukan jiplakan, dan jika dirasa perlu memintanya mengirim beberapa karya lain untuk menguatkan bahwa ia memang berbakat. Maka, nomor telepon dan alamat email yang bisa dihubungi menjadi sangat penting dicantumkan ketika mengirim karya ke koran.

Sebaliknya, tak jarang pula, karya penulis ternama ditolak oleh redaktur sastra koran, karena memang yang dikirimkan itu kualitasnya belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh redaktur itu. Saya tidak perlu menyebut nama-nama koran itu di sini, namun jika ingin tahu, bisa mengontak saya secara pribadi, bahkan bisa saya tunjukkan karya siapa saja.

Pernyataan Herman lainnya juga menarik dieksplorasi: “…tidak semua penulis pemula menulis jelek. Tidak percaya, coba amati kembali beberapa hasil lomba yang diadakan di Banda Aceh.”

Memang benar, terkadang kita menemukan karya bagus dari seseorang yang baru menulis satu cerpen. Tapi, itu barang langka. Yang ada adalah bagus menurut ukuran seseorang itu pada saat itu, bukan bagus menurut standar pengamat sastra atau menurut standar redaktur sastra sebuah media.

Saya sendiri pernah menemukan barang langka itu. Misalnya ketika saya membaca sebuah cerpen M Yusuf Bombang, yang dulu dimuat di Serambi, kalau tidak salah judulnya “Rapa’i”. Saya tidak terlalu ingat judulnya, karena itu awal-awal 1990-an. Itu cukup bagus untuk ukuran dia yang saya tahu baru sekali itu menulis cerpen.

Tapi jangan lupa juga, Bombang adalah seorang seniman teater, yang sudah terbiasa dengan cerita dan strukturnya, yang menjadi inti penting juga dalam cerpen. Tidak bisa dipungkiri, latar belakangnya sebagai penggiat teater membuat dia bisa mengungkapkan cerita dengan baik. Apalagi, ia sangat menguasai apa yang dia tulis.

Yang pasti, kriteria bagus itu harus diperjelas: menurut standar atau ukuran apa, kriteria apa yang dipakai untuk menilai, terus bagus menurut siapa?

Jangan lupa, seseorang itu lahir dari “proses menjadi”, yakni dengan semangat terus-menerus belajar, bukan “sim salabim”. Jadi, dalam kondisi yang normal, segalanya memulai dari bawah. Kalau mula-mula menulis pastilah kualitasnya rendah, lalu dengan “proses menjadi” itu, kualitas itu pelan-pelan meningkat, dan terus meningkat.

Logikanya sederhana saja: kalau awal-awal menulis, hanya dimuat di majalah dinding sekolah, terus meningkat di buletin terbatas, lalu meningkat lagi dimuat di koran lokal, kemudian pelan-pelan merambah ke publik yang lebih luas ke media-media nasional, sampai media-media asing. Itu semua tentu membutuhkan ketekunan kerja keras. Dan jangan lupa: impian. Impian bahwa karya saya harus muncul di koran-koran besar.

Semua pengarang besar melalui proses itu. Mereka tidak langsung jadi, tak langsung karyanya bagus-bagus begitu menulis. Mereka lahir tidak langsung terkenal. ****

Mustafa Ismail, penyair dan penulis cerpen asal Aceh, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *