Tag Archives: life

Puisi Bukan Kitab Suci

Saya kadang-kadang suka bertanya: masih perlukah puisi ditulis? Kenapa puisi ditulis? Apakah Anda menulis puisi untuk mengubah keadaan? Ah, begitu banyak pertanyaan berseliweran ketika membayangkan betapa banyak orang “berkeingan” menjadi penyair. Saya tak tahu apakah predikat penyair sedang “laku” dan naik daun. Sehingga menulis puisi menjadi kegiatan yang seksi.

Bajingan

Saya hampir tidak pernah menggunakan kata-kata kasar, apalagi kata “bajingan”, meskipun saya sangat marah. Tapi kali ini saya ingin sekali berteriak dan mengucapkan kata: Bajingan!

Jika ditempatkan secara benar, bagi penyair yang terampil berbahasa — bukan orang yang mengaku-aku penyair dan hidup dalam tempurung, apalagi “begundal kesenian” — sesungguhnya kata “bajingan” itu puitis.

Festival Sastra Bengkulu dan Tukang Desain Palsu

Festival Sastra Bengkulu dan Tukang Desain Palsu Saya adalah tukang desain palsu. Saya belajar desain secara otodidak, plus kursus singkat di sebuah lembaga kursus di Ciputat, Tangerang Selatan, beberapa tahun lalu. Saya memang suka menggambar, dulu sejak SMP, dan pernah hendak belajar melukis namun tidak kesampaian. Boleh jadi karena kecenderungan saya lebih pada menulis, makanya saya lebih intens menekuni dunia tulis-menulis.

Pengadilan Hingga Majalah Bekas | #ProsesKreatifMI 5

Masa-masa itu sangat menggairahkan. Kami berlomba menulis dan mengirim puisi ke berbagai media. Tak hanya di koran Aceh, seperti Serambi Indonesia, Atjeh Post dan Peristiwa, juga di koran-koran Medan seperti Waspada, Analisa, Persada dan lain-lain, hingga koran Jakarta. Bahkan tanpa berifikir honor, yang penting karya dimuat. Kami seperti sibuk mengejar eksistensi — meski tentu saja itu tak salah.

Dikusi Hingga “Berantam” di Koran | #RiwayatKreatifMI 4

Setelah berkali-kali puisi dimuat berbagai media plus berteater, saya pun merasa diri benar-benar “menjadi seniman” dan bergaya nyeniman: rambut gondrong, pakai sandal jepit, kadang jarang mandi – kecuali mau ke kampus. Sesekali saya tidur di Meunasah Tuha Taman Budaya Aceh bersama seniman lain, antara lain Din Saja dan Hasbi Burman.

Puisi Pertama di Koran dan Nama Samaran | #RiwayatKreatifMI 3

Pada 1990, sebuah puisi saya muncul di sebuah media lokal di Banda Aceh, Tanah Kelahiran. Puisi itu telah disunting oleh editor budaya media itu. Mungkin editornya kasihan melihat saya rajin sekali mengirim puisi sehingga memuatnya satu biji. Meski telah “ditukangi”, saya senang bukan main. Saat itu saya menggunakan nama pena Muista Fahendra.

Menyesal Hingga Akuntansi | #RiwayatKreatifMI (1)

SAYA tidak pernah menampik bahwa pada awalnya menulis puisi adalah hobi. Juga tidak perlu sewot kalau ada yang me-ngatakan bahwa menulis puisi kegiatan orang kasmaran. Pun tak usah uring-uringan bila diledek bahwa menulis puisi untuk mendapatkan uang. Faktanya memang demikian. Bahkan sah saja bila ada orang menulis puisi demi mendapatkan ketenaran.

Ketika Pelaku Sastra Gigit Jari Selesai Acara

>Dunia sastra sering diwarnai dengan kegiatan yang mengundang pengisinya secara gratisan. Acara pembacaan puisi, sangat sedikit yang memberi pengganti ongkos angkutan, apalagi honor. Sebagian media pun masih abai memperhatikan hak penulis sastra.

Timphan

>Timphan is the way the Acehnese colored the Idul Fitri. Lebaran is incomplete withot timphan. But when the conflict occurred in Aceh, some people became refugees outside Aceh. But they still make timphan as a way of treating the longing for the village. The idea of this short story departs from a real story in the era of conflict that I though to be a fictional world.

Merayaan Identitas dalam Prosesi Mudik

>Ternyata saya pernah menulis beberapa esai tentang mudik. Esai ini mengungkap ada apa di balik mudik dari sudut pandang semiotik.