Tag Archives: literary

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI diadakan di Kudus, Jawa Tengah, 28-30 Juni 2019. Kegiatan ini akan diramaikan oleh para penyair Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Seperti biasa pertemuan sastra, kegiatan yang diketuai oleh penyair Jumari HS ini juga ditandai dengan pengumpulan puisi peserta yang akan dibukukan dan diluncurkan pada saat acara.

Video Rekaman Diskusi Sastra di Sosial Media

Sastra di Ruang Medsos. Itulah tajuk diskusi acara bertema “Krearif itu Keren” yang diadakan oleh Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk) di Kudus, Jawa Tengah, 31 Januari 2017. Saya bersama esais Iwan Gunadi didaulat menjadi pemantik diskusi.

Baca Puisi Tak Perlu Seperti Memarahi Puisi

Secara guyonan, saya kadang suka iseng nyelutuk saat melihat orang membaca puisi pakai teriak-teriak: “Tolong jangan memarahi puisi.” Tentu ucapan spontan itu tak akan terdengar oleh orang yang sedang membaca puisi. Tapi minimal orang-orang di sekeliling saya mendengarnya.

Pesta Sastra Akhir Tahun, Banjarbaru dan Bintan

Ada dua festival sastra yang diadakan pada waktu bersamaan pada akhir November hingga awal Desember 2018. Kegiatan pertama diadakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan nama Banjarbaru Rainy Days Literary Festival. Ini festival sastra kedua di kota yang berselahan dengan Kota Banjarmasin itu, laksana Jakarta dengan Depok. Pertama diadakan pada 2017.

Dari Klise ke Klise, Obrolan Konyol dengan Penyair Milenial

OLEH: MUSTAFA ISMAIL | IG: MOESISMAIl | @MUSISMAIL | MUSISMAIL.COM |

“Apa sih yang baru dalam hidup ini? Peristiwa selalu berulang,” kata Suman, seorang anak muda, yang lagi galau mencipta puisi. Ia berhenti menulis puisi karena merasa tidak ada lagi yang baru dituliskan. “Semua hal rasanya sudah pernah dituliskan menjadi puisi. Soal cinta, kemiskinan, kemelaratan, kejahatan, korupsi, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, kasih sayang, semua pasti sudah pernah ditulis. Apa lagi?”

Masa Depan Sastra Koran

Oleh: MUSTAFA ISMAIL | IG: MOESISMAIL | @musismail

Tulisan ini adalah pemancing diskusi Seminar Sastra Banjarbaru Rainy Day’s Festival 2018 di Banjarbaru, 30 November-2 Desember 2018.

SAYA memulai tulisan singkat ini dengan sebuah pertanyaan klasik dan sudah sering dibicarakan: benarkah sastra koran kini mengalami senjakala? Benar, media cetak terus mengalami penurunan, baik dari sisi oplah (jumlah cetak) maupun dari iklan. Sejumlah media telah gulung tikar, di dalam maupun di luar negeri. Itu terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Antara Busana dan Isi Kepala, Siapa Panglimanya?

Alkisah, ada seorang mahasiswa masuk ke kelas memakai sendal jepit. Melihat itu, sang dosen yang sedang mengajar, mempersilakannya masuk. Sejenak, ia memandang perempuan muda itu yang memakai kaos oblong, celana jeans, dan sepatu sport. Cuma, ia mengernyitkan dahi ketika melihat punggung perempuan itu. Ada bekas beberapa sundutan rokok di sana. Tampaknya si mahasiswi tidak tahu itu. Mungkin itu terjadi secara tak sengaja entah di mana.

Penulis Serius versus Selebritas Sastra

Anak kecil yang baru belajar karate, tiang listrik pun diajak berkelahi. Kata-kata ini sering saya lontarkan — secara guyonan tentu saja — merespon orang-orang yang senang memancing diskusi tak produktif di media sosial. Biasanya orang seperti ini baru belajar sesuatu. Lalu, ia asyik mengkritik atau menggurui sana-sini, termasuk memancing debat tak penting. Bahkan terkesan ia sedang mencari perhatian.

Dari Sastra Kontekstual ke Puisi Realitas Zaman

OLEH: MUSTAFA ISMAIL,
penulis sastra dan kebudayaan. |

“…. penyair dituntut untuk lebih peduli di masa kini. Peduli berarti harus siap memahami realitas zaman. Penyair semakin dituntut untuk mengasah indranya kian peka menyikapi fakta melalui ungkapan kata.” (Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin dalam teks pidato Hari Puisi Indonesia 2018).

Puisi Bagus versus Karya Juara

Beberapa lalu, saya memperlihatkan sebuah buku puisi kepada seorang kawan baik yang datang ke rumah. Puisinya pendek-pendek. Teman yang membaca itu bilang: “Bagus-bagus puisinya ya,” katanya. “Segar.” Saya menimpali: kekuatan puisi memang tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya. “Jadi tidak perlu memaksa diri puisi harus menulis puisi panjang-panjang.”