Tag Archives: story

Trienggadeng

Jika Anda melintas di jalur pantai utara (Pantura) Aceh dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya, singgahlah sebentar di Trienggadeng. Apa istimewanya? Tidak terlalu istimwewa, tapi jika Anda singgah cukup membuat Anda kangen untuk singgah lagi di lain waktu.

Bajingan

Saya hampir tidak pernah menggunakan kata-kata kasar, apalagi kata “bajingan”, meskipun saya sangat marah. Tapi kali ini saya ingin sekali berteriak dan mengucapkan kata: Bajingan!

Jika ditempatkan secara benar, bagi penyair yang terampil berbahasa — bukan orang yang mengaku-aku penyair dan hidup dalam tempurung, apalagi “begundal kesenian” — sesungguhnya kata “bajingan” itu puitis.

Bengkulu yang Manis

Puisi ini saya bacakan di pentas terakhir Festival Sastra Bengkulu di perkebunan teh di Kebawetan, Kepahiyang, Minggu, 15 Juli 2018. Festival Sastra Bengkulu berlangsung pada 13-15 Juli 2018. Kegiatan disebar di sejumlah tempat. Pembukaan acara oleh PLT Gubernur Bengkulu di Pendopo Gubernur, Jumat malam, 13 Juli 2018.

Kisah Lelaki dari Gampong Usi

Ia dikenal sebagai penyair dan seniman teater. Awalnya ia menulis puisi, cerpen, esai, hingga naskah drama. Saat itu, pada awal 1990, ia kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Dalam waktu bersamaan, ia juga membentuk sanggar seni (sastra dan teater) di kampusnya. Dari sanggat bernama Cempala Karya itu banyak bermunculan pegiat sastra yang karyanya kerap menghiasi koran.

Dikusi Hingga “Berantam” di Koran | #RiwayatKreatifMI 4

Setelah berkali-kali puisi dimuat berbagai media plus berteater, saya pun merasa diri benar-benar “menjadi seniman” dan bergaya nyeniman: rambut gondrong, pakai sandal jepit, kadang jarang mandi – kecuali mau ke kampus. Sesekali saya tidur di Meunasah Tuha Taman Budaya Aceh bersama seniman lain, antara lain Din Saja dan Hasbi Burman.

Puisi Pertama di Koran dan Nama Samaran | #RiwayatKreatifMI 3

Pada 1990, sebuah puisi saya muncul di sebuah media lokal di Banda Aceh, Tanah Kelahiran. Puisi itu telah disunting oleh editor budaya media itu. Mungkin editornya kasihan melihat saya rajin sekali mengirim puisi sehingga memuatnya satu biji. Meski telah “ditukangi”, saya senang bukan main. Saat itu saya menggunakan nama pena Muista Fahendra.

Jakarta Butuh Banyak Lebaran

>Seandainya Lebaran bisa dipesan, saya akan pesan tiap bulan. Kenapa? Ah, baca saja tulisan ini.

Senin kemarin (11 Juni 2018), saya meluncur dari rumah di kawasan Bojongsari, Depok, menuju ke Kantor Unit Khusus Layanan Paspor Imigrasi Jakarta Selatan di Jalan Ciputat Raya, Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Saya menunggang “kambing” merah