Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Penulis Sastra Mendadak Lucu di Malam Sastra Margonda

Bertajuk “Dongeng Tentang Kita”, Malam Sastra Margonda (MSM) yang diadakan oleh Komunitas Sastra Margonda untuk memperingati Hari Dongeng Sedunia yang jatuh pada 20 Maret 2020. Malam Sastra Margoda diadakan di Miebiee Pasta, More »

Merayakan Dongeng

Merayakan Dongeng

Merayakan Hari Dongeng Sedunia Ayo kita bertemu dan ngopi di #malamsastramargonda Sabtu, 14 Maret 2010 Pukul 19.00-22.30 di @miebiipasta_ Jalan Merpati 6 No 237 Pancoran Mas Depok More »

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda digagas oleh Mustafa Ismail, Tora Kundera dan Willy Ana. Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi para pecinta seni dan sastra di Depok, terutama anak muda, untuk berekspresi sekaligus mengapresiasi More »

Merayakan Hujan dan Puisi

Merayakan Hujan dan Puisi

Hujan dan Puisi seperti Sapardi dan Bulan Juni. Mereka mengajak kita dalam bait-bait yang membungahkan hati. Nah, menyambut Februri, kita merayakan hujan dan puisi, sambil membaca puisi-puisi cinta karya sendiri, karya siapa More »

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di More »

 

Tukang Bakso dan Gaji Direktur

Suatu kali — sekitar dua tahun lalu — saya mengobrol dengan seorang abang penjual bakso sepeda yang sering keliling di kompleks-komplek perumahan dan perkampungan di sekitar tempat tinggal saya di kawasan Pamulang. Ini biasa saya lakukan dengan penjual apa saja — saat saya membeli sesuatu pada mereka. Tentu mereka senang diajak ngobrol.




Tapi kali ini saya ajak ngobrol tentang aktivitasnya menjadi penjual bakso Malang keliling. Dari situ saya tahu, ternyata dagangan itu bukanlah milik dia, tapi milik seorang juragan. Tadinya, saya berpikir para penjual bakso keliling itu — termasuk yang bersepeda — adalah para pemilik. Rupanya tidak. Ia hanya pedagang yang mendapat upah tertentu dari juragannya.

Nah, si abang bakso ini mendapat pendapatan rata-rata di atas Rp 100 ribu semalam. Ia biasa bekerja mulai sore menjelang malam hingga tengah malam atau dini hari berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di seputaran Pamulang. Kadang nongkrong sebentar di suatu temjpat. Rata-rata, ia omzet penjualan baksonya rata-rata sekitar Rp250 ribu permalam. Kadang lebih dari itu.

Dari jumlah itu, ia dipatok setoran tiap malam Rp 115.000. Itu setoran bersih setelah dipotong ini-itu, termasuk jerih dia sebagai pedagang. Kalau laku Rp 250 ribu, artinya si abang pedagang itu mendapat bagian Rp.135.000. Jika dikalikan 24 hari kerja, rata-rata si abang bakso ini mendapatkan Rp 3,2 juta perbulan. Angka itu tentu masih di angka upah minimum regional.

Maka itu — seorang tukang bakso lain yang sempat saya ajak ngobrol mengatakan dengan mantap: “Ya mendingan begini (jualan) daripada jadi buruh. Bisa santai, waktunya diatur sendiri, dan tidak dikejar-kejar pekerjaan dan ditekan dengan segala macam aturan,” begitu kira-kira katanya. Benar juga. “Belum lagi waktu dan umur habis di jalan,” timpal saya.

Kembali ke tukang bakso awal tadi. Ia adalah pendatang di Jakarta. Si abang ini tinggal di sebuah rumah yang dikontrak oleh majikan. Sang juragan mempunyai sekitar 30 anak buah yang menjaja bakso tiap malam. Wow. Jumlah yang tak sedikit. Saya lalu mencoba menghtung-hitung: kalau tiap malam anak buahnya menyetor Rp 115.000 x 30 orang, berarti tiap malam ia menghasilkan Rp 3.450.000.

Nah kalau sebulan: Rp 3,450.000 x 24 hari kerja = Rp 82,800.000. Dalam dunia kuliner, rata-rata total modal itu sekitar 40 persen. Jadi, jika dikurangi modal 40 persen (Rp 33.120.000), didapat Rp 49.680.000. Jumlah itulah pendapatan tiap bulan sang juragan bakso itu. Ya, nilai itu mungkin setara gaji seorang direksi sebuah perusahaan level menengah.

Bedanya, seorang direksi tiap pagi harus bergelut dengan kemacetan, sementara sang juragan pagi-pagi asyik ngopi sambil sarungan di teras rumahnya. | MI | @musismail | FOTO: ilustrasi diolah dari internet.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *