Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di More »

Hoax Merajelala, Seniman di Mana?

Hoax Merajelala, Seniman di Mana?

Dua hari lalu, tepatnya Rabu pagi, perupa Jeffrey Sumampouw mengirim pesan mesanger di aplikasi WhatsApp. Isinya mengajak saya menjadi salah satu narasumber diskusi tentang seni di *Marto Artcentre di Jalan Pondok Labu More »

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI diadakan di Kudus, Jawa Tengah, 28-30 Juni 2019. Kegiatan ini akan diramaikan oleh para penyair Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Seperti More »

Tiket Pesawat Mahal dan Kreativitas Khas Indonesia

Tiket Pesawat Mahal dan Kreativitas Khas Indonesia

Seorang kawan yang sedang berkuliah program doktor di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memposting sebuah video di Instagram. Isinya: mengabarkan bahwa ia dan sejumlah kawan lain sedang berada di Bandara Soekarno-Hatta. Namanya More »

Lomba Baca Puisi Festival Literasi Padangpanjang

Lomba Baca Puisi Festival Literasi Padangpanjang

Padangpanjang termasuk salah satu kota yang sangat aktif dalam bidang literasi dan seni. Ini memang bisa dipahami, karena di kota itu berdiri sebuah kampus seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Saya More »

 

Dikusi Hingga “Berantam” di Koran | #RiwayatKreatifMI 4

Setelah berkali-kali puisi dimuat berbagai media plus berteater, saya pun merasa diri benar-benar “menjadi seniman” dan bergaya nyeniman: rambut gondrong, pakai sandal jepit, kadang jarang mandi – kecuali mau ke kampus. Sesekali saya tidur di Meunasah Tuha Taman Budaya Aceh bersama seniman lain, antara lain Din Saja dan Hasbi Burman.

Di situ pula, saya banyak berdiskusi dengan Din Saja, yang dulu pernah memakai nama Ade Sukma. Sebagai penulis sangat junior, saya banyak belajar menulis puisi dari peyair ini. Saya juga banyak belajar dari puisi-puisi Hasbi Burman, Hasyim KS, Maskirbi, Doel CP Allisah dan lain-lain.

Tapi, tentulah yang paling berperan “menghidupkan” semangat para penulis sastra di era saya adalah Hasyim KS. Ia redaktur budaya di Serambi Indonesia. Kami selalu deg-degan tiap pagi minggu sambil mencari koran dan berharap-harap puisi atau cerpen kamilah yang dimuat pada hari itu.

Selain oleh LK Ara, puisi saya bersama puisi penyair lainnya pernah pula dibahas oleh dosen Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Ahmad Samin Siregar di Harian Waspada, Minggu 30 Juni 1991. Judulnya “Puisi-puisi Pergulatan Kaum Muda”. Ia membahas puisi-puisi yang terbit di rubrik Abrakadabra koran Waspada pada Mei 1991. Puisi berjudul Diam itu berbunyi:

Diam

Sebenarnya masih banyak ingin kubicarakan
ketika kau meminta kita saling diam
Kita telah menipu bulan
yang akan bersinar di antara kelam dan kekeruhan.

Seiring produktivitas saya menulis puisi dan dimuat di berbagai media, saya makin intens berteman dengan seniman dan sastrawan Aceh, sekaligus turut belajar dari mereka. Mulai dari sastrawan senior seperti Markirbi, Hasbi Burman dan Hasyim KS, “angkatan” setelahnya seperti Din Saja, Doel CP Allisah, AA Manggeng Putra, Fikar W Eda, Saiful Bahri, Nurdin F. Joes, Wiratmadinata, D. Kemalawati, Helmi Hass, Wina SW1, hingga teman-teman sastrawan yang banyak berkiprah di kampus.

Mereka sedang kuliah baik di Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry maupun di kampus lain di Banda Aceh. Mereka antara lain Soel’s J Said Oesy (Sulaiman Juned), Nab Bahany AS, Sadri Ondang Jaya, Anhar Sabar (Naharuddin), Deny Pasla, Win Gemade, Ansor Tambunan, Zab Bransah, J Kamal Farza, Zulfikar Sawang, Budi Arianto, Jarwansah, Suhaita Abdul Rahman, dan lain-lain.

Dalam setiap ketemu, kami sering berdiskusi tentang banyak hal. Sebagian dari hasil obrolan itu kemudian kami jadikan tulisan dan kami kirim ke koran. Tak jarang kami berpolemik di koran. Saat itu, iklim pemikiran di Aceh memang luar biasa gairahnya. Diskusi dalam bentuk polemik di koran itu begitu hidup, tidak hanya antar sastrawan, juga dengan penulis bidang lain.

Nama-nama seperti Otto Syamdudin Ishak, Risman A Rahman, Tabrani Yunis, Yarmen Dinamika, Teuku Ahmad Dadek, Syaifuddin Bantasyam, Saleh Safei, dan lain-lain itu kerap mewarnai halaman opini Serambi Indonesia yang menjadi ruang bertukar gagasan bagi para pemikir di Aceh kala itu.

Meskipun bukan pegiat kebudayaan, mereka turut memberi warna dalam pemikiran kebudayaan. Jadi polemik tentang seni dan kebudayaan tidak hanya di halaman budaya, juga di halaman opini. Di luar itu, kami juga kerap bertemu di forum-forum diskusi yang pada waktu itu marak.

Diskusi dan ngobrol berbuih-buih tak kenal waktu pula yang membuat saya bersama beberapa kawan yang sering bertandang ke tempat kost saya di kawasan Lampaseh, diusir oleh bapak kost. Kami dianggap terlalu ribut. Tengah malam itu, saya, Sulaiman Juned, Nurdin Supi dan beberapa kawan lain mengungsi ke Taman Budaya Aceh.

Tapi kemarahan bapak kost tidak berlanjut. Beberapa hari kemudian, bapak kost yang seorang nelayan itu mengajak kami mancing ke laut. Tentu saja ajakan itu kami tolak. Sebab jangan-jangan kami mau ditenggelamkan!

Saya tinggal di kost di lantai dua rumah mirip ruko itu bersama empat orang teman. Lantai satu ditempati pemilik rumah. Saya sekamar dengan teman baik sejak di kampung yakni Anwar Abdullah. Kamar sebelah ditempati Nurdin Supi bersama dua temannya yang masih ada hubungan keluarga.

Selain di tempat saya, kami sering ngumpul di Kompleks Cinta Kasih (KCK) di Darussalam dan tempat kost Budi Arianto di Jeulingke. KCK tempat kost para penyair seperti J Kamal Farza, Anhar Sabar, Deny Pasla dan Ansor Tambunan (Ucok Kelana TB), dan lain-lain. Mereka mahasiswa berbeda jurusan dan fakultas di Universitas Syiah Kuala.

Kamal kemudian pindah kost ke Kompleks Ayahanda, tempat kami sering makan nasi dengan minyak jelantah ditaburi garam plus telor mata sapi. Di situlah kami sering mematangkan berbagai ide untuk tulisan opini di koran untuk merespon kondisi mutakhir di Aceh pada saat itu. Mulai dari masalah sosial, budaya, kampus dan kemahasiswaaan, hingga politik.

Ansor juga pindah ke Jelingke satu kompleks dengan Budi Arianto, yang belakangan lebih senang disebut mantan calon penyair. Di sana, kami sempat membuat Tabloid Sastra Alternatif. Tabloid itu kami layout di sebuah tempat fotocopy di Simpang Kramat, lalu difotocopi dan kami jual kepada seniman. Lumayan laris. Beberapa laporan tabloid ukuran A3 lipat dua itu dikutip untuk rubrik budaya sebuah media lokal. ***

Bersambung

MUSTAFA ISMAIL
musismail.com
@musismail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *