Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda: Hujan Cinta Februari

Malam Sastra Margonda digagas oleh Mustafa Ismail, Tora Kundera dan Willy Ana. Acara ini diharapkan menjadi ruang bagi para pecinta seni dan sastra di Depok, terutama anak muda, untuk berekspresi sekaligus mengapresiasi More »

Merayakan Hujan dan Puisi

Merayakan Hujan dan Puisi

Hujan dan Puisi seperti Sapardi dan Bulan Juni. Mereka mengajak kita dalam bait-bait yang membungahkan hati. Nah, menyambut Februri, kita merayakan hujan dan puisi, sambil membaca puisi-puisi cinta karya sendiri, karya siapa More »

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di More »

Hoax Merajelala, Seniman di Mana?

Hoax Merajelala, Seniman di Mana?

Dua hari lalu, tepatnya Rabu pagi, perupa Jeffrey Sumampouw mengirim pesan mesanger di aplikasi WhatsApp. Isinya mengajak saya menjadi salah satu narasumber diskusi tentang seni di *Marto Artcentre di Jalan Pondok Labu More »

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI diadakan di Kudus, Jawa Tengah, 28-30 Juni 2019. Kegiatan ini akan diramaikan oleh para penyair Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Seperti More »

 

Puisi Pertama di Graha Bhakti Budaya

Pada November 1996, saya pertama kali ke Jakarta. Dari Aceh, bersama beberapa kawan penyair Aceh lain, naik bus ke Medan, lalu naik taksi ke Pelabuhan Belawan. Kami naik kapal ke Jakarta. Tujuannya satu: memenuhi undangan panitia Mimbar Penyair Abad 21 yang diadakan oleh #DewanKesenianJakarta @jakartscouncil.

Kami diundang berenam, namun hanya empat yang berangkat. Saya, Wiratmadinata, Nurdin Supi, dan Rahmad Sanjaya. Penyair Aceh lain, yang juga diundang, yakni Nurdin F Joes dan Nurgani Asyik (almarhmum) tidak bisa hadir. Acara itu dihadiri sekitar 60 penyair muda dari seluruh Indonesia. Kala itu, DKJ dipimpin oleh Salim Said dan kawan-kawan.

Tiba di Pelabuhan Tanjungpriok, kami naik taksi gelap ke Taman Ismail Marzuki (TIM). Mobilnya bagus, Suzuki Carry warna biru soft yang sangat mulus. Biayanya Rp 15.000. Kami turun di gerbang TIM. Di sana, tak dinyana, sedang nongkorong sejumlah penyair senior, seperti LK Ara, Slamet Sukirnanto (alm), dan lain-lain. Kami pun dijamu ngopi dan makan oleh mereka. Dari sana, kami diajak ke rumah Pak LK Ara.

Itulah pertama kalinya saya ke Jakarta. TIM penuh umbul-umbul Festival November 1996. Mimbar Penyair Abad 21 adalah bagian dari festival novembe itu. Acara diwarnai dengan diskusi hingga baca puisi.

Baca puisi diadakan di Graha Bhakti Budaya. Nah, di situlah pertama kali saya membaca puisi di Jakarta. Di gedung, yang kini sedang dirobohkan untuk #revitalisasiTIM. Saya, tentu saja, sedih. Ada kenangan yang tersimpan lekat-lekat di sana, yang menandai jalan hidup saya kemudian. Baik sebagai penulis sastra maupun sebagai manusia yang terus menekuni skenario Sang Maha…

Tapi saya percaya, tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Semua fana. Kita harus tetap bergerak untuk sesuatu yang lebih baik.

SUMBER FOTO:
Facebook @puisi.tanpa.kata

#TIM #story #life #lifestory #mimbarpenyairabad21 #penyairaceh #senimanaceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *