Tag Archives: story

Syahwat Batu Ali Ibnu

Minggu siang, penyair @mahwiairtawar mengontak saya: “Ada rencana ke Miebii hari ini?” Miebii dimaksud adalah @miebiipasta_ tempat kami biasa ngopi tiap Sabtu sore hingga nalam (juga kadang Rabu malam juga) sekaligus tempat kegiatan Malam Sastra Margonda.

Puisi Pertama di Graha Bhakti Budaya

Pada November 1996, saya pertama kali ke Jakarta. Dari Aceh, bersama beberapa kawan penyair Aceh lain, naik bus ke Medan, lalu naik taksi ke Pelabuhan Belawan. Kami naik kapal ke Jakarta. Tujuannya satu: memenuhi undangan panitia Mimbar Penyair Abad 21 yang diadakan oleh #DewanKesenianJakarta @jakartscouncil.

Berpikir Positif Itu Membahagiakan

Ada banyak orang tak bahagia bukan karena papa atau tak berilmu, tapi karena cara berpikir yang keliru. Salah satunya: berpikir negatif, penuh prasangka, dan seolah hidup itu buruk dan durja.

Batang

Batang, Jawa Tengah, adalah daerah yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk. Di jalanan Batang kita dengan mudah menemukan orang-orang yang melaju tanpa terburu-buru, seolah tak ada yang harus ngotot dikejar dalam hidup ini. Santai, namun bersemangat. Banyak yang bermotor, tak jarang pula yang bersepeda. Ada pula yang berjalan kaki atau menggunakan becak tradisional yang didayung dari belakang.

Idul Fitri, Takbir, Lilin dan Petasan

Saya kini berada ribuan kilometer dari kampung saya di sebuah kota kecil di Aceh. Di kampung saya, yang dulu masuk wilayah Kabupaten Pidie namun belakangan karena pemekaran menjadi bagian dari Pidie Jaya, terutama ketika saya kecil, tak banyak hiruk pikuk. Setiap malam Lebaran saya membakar lilin dan menjejerkannya di pagar. Apa hubungannya lebaran dengan lilin?

Sahur

Saya punya cara sahur sendiri: makan kapan saja dan saya niatkan untuk sahur. Memang, sebenarnya sahur sangat dianjurkan dalam rentang waktu lewat tengah malam hingga waktu imsak, beberapa menit sebelum subuh.

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

…………..

Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di Whatsapp. Tapi, untuk jaga-jaga, saya pindahkan nomor saya ke ponsel berbasis windows itu. Saya berharap orang tersebut akan mengontak saya ke nomor biasa, bukan lewat WA. Saya janjian pukul 13.00. Namun, saya tiba di Plaza Senayan pukul 13.23. Lumayan telat, karena tadi asyik ngoprek-ngoprek hp agar normal kembali.

Saya duduk di lobi, dekat kolam kecil yang dikeliling pagar rendah dari tembok dan bisa digunakan untuk duduk. Sejumlah orang saya lihat duduk di sana. Saya menunggu orang tersebut untuk mengontak saya ke nomor biasa. Masalahnya, saya tidak bisa mengontaknya karena nomor dia ada di WhatsApp. Sambil duduk, saya kembali mencoba mengoprek-oprek ponsel agar normal kembali. Saya tekan tombol power, tombol suara, dan seterusnya seperti petunjuk. Juga tidak berhasil. Jika manusia, mungkin tombol power dan tombol-tombol lainnya itu akan menjerit ditekan terus, kadang kuat-kuat.

Sensus Penyair dan Puisi Konyol

Sungguh, saya agak geli membaca puisi berjudul “Sensus Penyair” ini. Puisi yang saya tulis pada Desember 1991 itu rada-rada “gimana”. Puisi ini bagian dari bundel puisi saya berjudul “Perjalan” dengan ketikan mensin ketik — yang tentu saja tidak ada file softcopynya. Maka itu, puisi ini saya ketik ulang sebagaimana adanya.

Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Tak Tahu

>Rezeki bukan saja titipan, tapi sekaligus ujian: apakah kita bisa menggunakannya dengan baik dan untuk jalan kebaikan.

Seorang kawan, Suman, bersungut-sungut tak habis pikir sejak kapan orang-orang di kampungnya terkena penyakit narsis. Alkisah begini. Kampung mereka, Meurandeh, berencana merenovasi meunasah alias langgar atau musalla, dalam bahasa Indonesia. Plafon sudah mulai keropos karena beberapa bagian atap tireh (bocor). Jadi, atap harus dibongkar plus plafon untuk diganti dengan yang baru.

Robur, Simpang Mesra dan Romantika Mahasiswa Aceh

Saya tidak kuliah di Darussalam. Di sana, ada dua kampus negeri yang telah banyak melahirkan sarjana dan sebagian di antaranya menjadi pemimpin di Aceh maupun di luar Aceh. Saya kuliah di sebuah kampus di pojok lain Banda Aceh, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) Banda Aceh. Tak ada robur yang mengantar mahasiswa dari pusat kota Banda Aceh ke “kampus biru” kami. Setiap ke kampus kami menumpang labi-labi, nama lain untuk angkutan kota.